Berita UtamaGaya Hidup

Misteri Takdir: Mengapa Yang Bersalah Masih Berjalan, Sementara Pejuang Keadilan Dipanggil Tuhan?

×

Misteri Takdir: Mengapa Yang Bersalah Masih Berjalan, Sementara Pejuang Keadilan Dipanggil Tuhan?

Sebarkan artikel ini
Sancoo Simanullang. (Batakpost.com/Ist)
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Oleh Sanco Simanullang

Frasa “Lan pe di tahi jolma, rohaNa do na saut” adalah penggalan lirik lagu rohani Batak yang sangat terkenal, yaitu dari Buku Ende HKBP No. 279 yang berjudul “Pasahat Ma Sudena” (atau Buku Logu No. 160).

IKLAN
IKLAN

Kita manusia sering merasa paling tahu tentang hidup. Kita mengira orang baik akan selalu diberi umur panjang, orang jujur akan selalu menang, dan orang yang melakukan kejahatan akan segera menerima balasannya. Tetapi, ketika melihat kenyataan, kadang hati bertanya: Tuhan, boasa songon on? Mengapa harus demikian?

Ada pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Ada peristiwa yang membuat kita terdiam. Ada pula perjalanan hidup yang membuat kita hanya mampu menarik napas panjang sambil berkata, “Aha do ulaning Sangkap ni Debata di Ngolungku?”.

Begitulah hidup. Tidak semua yang kita pikirkan menjadi kenyataan. Tidak semua yang kita harapkan terjadi sesuai keinginan. Sebab, manusia hanya melihat apa yang ada di depan mata, sedangkan Tuhan mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

Cobalah kita renungkan kisah dua sosok yang pernah dipertemukan oleh perkara hukum yang mengguncang negeri ini: Ferdy Sambo dan Kamaruddin Simanjuntak.

Di satu sisi, ada Ferdy Sambo, mantan jenderal yang terjerat perkara pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat. Pangkat pernah melekat, jabatan pernah diemban, kekuasaan pernah berada dalam genggamannya. Namun, pada akhirnya, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Orang Batak punya petuah yang sederhana, tetapi dalam maknanya: “Songon sorga ni padati do ngoluon” Ndang manontong hamu di ginjang,  songoni di toru.” (Tidak selamanya seseorang berada di atas, dan tidak selamanya pula ia berada di bawah. Hidup ini berputar).

Hari ini seseorang bisa dihormati karena jabatannya, tetapi esok hari ia mungkin harus menghadapi akibat dari keputusan yang pernah dibuatnya sendiri.

Jabatan itu sementara. Pangkat itu sementara. Kekuasaan pun tidak dibawa sampai ke kuburan.

“Unang ma teal Hu  molo di ginjang ho, jala unang ma Gale Hu molo di toru ho.” (Jangan sombong ketika berada di atas, dan jangan kehilangan harapan ketika berada di bawah). Sebab, yang menentukan nilai seseorang bukanlah setinggi apa pangkatnya, melainkan bagaimana ia menggunakan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya.

Di sisi lain, ada Kamaruddin Simanjuntak, advokat yang dikenal luas karena keberaniannya mendampingi keluarga Brigadir Yosua dalam memperjuangkan keadilan.

Ia menjadi salah satu sosok yang berdiri di tengah perkara besar, ketika perhatian masyarakat tertuju pada pencarian kebenaran.

Perjuangannya mengingatkan kita bahwa membela keadilan tidak selalu mudah. Ada tekanan, ada perdebatan, ada risiko, dan ada kelelahan yang mungkin tidak diketahui orang lain.

Dalam kehidupan orang Batak, kita mengenal ungkapan: “Unang ma holan di hata, alai ingkon do di pambahenan.” (Kata-kata yang baik tidak cukup hanya diucapkan; semuanya harus terlihat dalam perbuatan). Sebab, keberanian bukan hanya perkara suara yang lantang. Keberanian juga berarti bersedia berdiri ketika orang lain memilih diam, selama apa yang diperjuangkan memang benar dan dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab.

Namun, ada satu perkara yang harus kita sadari: manusia tetap manusia. Sehebat apa pun perjuangannya, ia mempunyai batas. Seberani apa pun seseorang di hadapan dunia, ia tetap membutuhkan istirahat. Sebesar apa pun pengabdiannya kepada orang lain, tubuhnya pun dapat menjadi lemah.

Lalu, mengapa orang yang kita anggap baik harus menghadapi penderitaan? Mengapa orang yang kita anggap bersalah masih bisa menjalani hari-harinya?

Selanjutnya Baca: Di sinilah…