Di sinilah iman kita diuji. Dalam Kitab Pengkhotbah 3:1 tertulis: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk hidup, ada waktu untuk berjuang, dan ada waktu ketika perjalanan kita di dunia harus berakhir.
Kita boleh bersedih. Kita boleh mempertanyakan keadaan. Kita boleh berharap agar keadilan ditegakkan. Namun, jangan sampai kita merasa mampu membaca seluruh rencana Tuhan hanya dari apa yang terlihat oleh mata.
Sebab, umur panjang bukan selalu tanda bahwa seseorang lebih benar. Penderitaan bukan berarti seseorang lebih berdosa. Dan kematian bukan bukti bahwa perjuangan seseorang telah gagal.
Hata ni Tuhanta mandok: “Burju, sai Burju ma Ho Rasi rasa mate Ho. Asa di Ho tumpal hangoluan. Binsan tikki parasiani dope.” (Kalau kita tidak bisa mengatur berapa lama hidup kita, aturlah perbuatan kita selama masih diberi kesempatan). Itulah yang sering terlupakan.
Kita terlalu sibuk menghitung siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih tinggi jabatannya, siapa yang lebih berkuasa, dan siapa yang lebih lama hidup. Padahal, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang sudah kita lakukan dengan kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita?
Apakah ketika menjadi pemimpin, kita melindungi orang-orang yang bekerja bersama kita?
Apakah ketika mempunyai kuasa, kita masih ingat kepada mereka yang tidak memiliki suara?
Apakah ketika berada dalam kesulitan, kita tetap memegang kejujuran?
Dan ketika kita melihat orang lain jatuh, apakah kita mengulurkan tangan atau justru menambah luka?
Dalam Mikha 6:8, kita diingatkan untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah.
Itu bukan sekadar ayat untuk dibaca ketika beribadah. Itu adalah tuntunan untuk dijalankan setiap hari.
Adil dalam keputusan. Setia dalam tanggung jawab. Rendah hati dalam keberhasilan. Begitulah seharusnya manusia menjalani hidupnya.
Orang Batak juga mengenal nilai hamoraon, hagabeon, hasangapon: (kesejahteraan, keturunan, dan kehormatan). Tetapi semuanya akan kehilangan makna jika tidak disertai karakter yang baik.
Apa gunanya hamoraon kalau hati tidak pernah merasa cukup?
Apa gunanya hagabeon kalau kita tidak mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita?
Apa gunanya hasangapon kalau kehormatan itu hanya berdiri di atas jabatan, bukan di atas kejujuran?
Kita boleh bercita-cita tinggi. Kita boleh bekerja keras untuk mencapai keberhasilan. Kita boleh bangga atas apa yang telah kita raih. Namun, jangan pernah lupa bahwa semua itu adalah titipan.
“Tading do sudenai. Ai aha ma lapatan ni jolma, molo saluhutna na adong di ibana ingkon ditadinghon?” (Apa artinya perjalanan manusia jika pada akhirnya semua yang dimilikinya harus ditinggalkan?).
Dalam Matius 16:26, Yesus mengingatkan tentang betapa sia-sianya memperoleh seluruh dunia apabila seseorang kehilangan nyawanya. Karena itu, jangan hanya mengejar nama besar. Bangunlah nama baik. Jangan hanya mengejar kekuasaan. Belajarlah memegang amanah. Jangan hanya ingin dihormati. Jadilah orang yang memang layak dihormati.
Sebab, ada perbedaan besar antara orang yang dihormati karena jabatannya dan orang yang tetap dihormati ketika jabatannya sudah tidak ada.
Yang pertama mungkin kehilangan penghormatan ketika kekuasaannya berakhir. Yang kedua meninggalkan kenangan baik karena orang-orang pernah merasakan manfaat dari kehidupannya.
Di situlah sesungguhnya misteri takdir mengajarkan sesuatu kepada kita: kita tidak berkuasa menentukan berapa lama kita hidup, tetapi selama masih hidup, kita dapat memilih untuk berbuat baik.
Kita orang Batak yang sejak kecil diajarkan untuk menghormati orang tua, menjaga nama keluarga, dan bekerja keras demi masa depan anak-anak kita, jangan sampai kita hanya mewariskan marga tanpa mewariskan nilai-nilai kehidupan.
Semoga anak-anak kita mengenal kita bukan hanya sebagai orang yang pernah mempunyai jabatan, tetapi sebagai orang tua yang jujur.
Semoga keluarga kita mengingat kita bukan hanya karena harta yang kita kumpulkan, tetapi karena kasih yang kita berikan.
Dan biarlah orang-orang yang pernah bekerja bersama kita mengenang kita bukan karena takut kepada kita, melainkan karena mereka pernah merasakan keadilan dari kepemimpinan kita. (*)
Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEW













