Teknologi

Layanan Direct to Cell dari Starlink: Inovasi dan Kontroversi di Indonesia

135
×

Layanan Direct to Cell dari Starlink: Inovasi dan Kontroversi di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Layanan Direct to Cell dari Starlink: Inovasi dan Kontroversi di Indonesia
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Jakarta, 18/6 (Batakpost.com) – Layanan internet dari perusahaan SpaceX milik Elon Musk meluncurkan layanan Direct to Cell. Teknologi ini memungkinkan jaringan internet dari satelit Starlink dapat langsung diakses menggunakan ponsel, berbeda dengan provider telekomunikasi yang ada di Indonesia.

Apa Itu Direct to Cell Starlink?

Dikutip dari situs resmi Starlink, Direct to Cell adalah teknologi yang memungkinkan ponsel mengakses jaringan internet langsung dari satelit Starlink untuk melakukan berbagai aktivitas, mulai dari SMS, telepon, internetan, hingga menghubungkan Internet of Things (IoT).

Satelit Starlink dengan kemampuan Direct to Cell memiliki onboard modem eNodeB canggih yang dapat bertindak sebagai menara BTS (Base Transceiver Station) di ruang angkasa, sehingga tidak memerlukan menara BTS di darat. Layanan ini mulai diuji pada 8 Januari 2024, dan berhasil mengirim serta menerima pesan teks pertama menggunakan spektrum jaringan T-Mobile melalui salah satu satelit Direct to Cell Starlink yang sudah meluncur enam hari sebelumnya.

Pada tahun 2024, Direct to Cell Starlink baru memungkinkan layanan pesan teks. Tahun 2025, Starlink akan memperluas layanan ini ke suara, data, dan menghubungkan IoT.

Kelebihan Direct to Cell Starlink

Berikut beberapa kelebihan dari layanan Direct to Cell Starlink:

1. Tanpa BTS: Direct to Cell tidak membutuhkan menara Base Transceiver Station (BTS). Dengan demikian, layanan ini tidak membutuhkan lahan di darat untuk mendirikan menara, menghindari penolakan pembangunan BTS di dekat pemukiman warga.

2. Jaringan Lebih Luas hingga ke Daerah Terpencil: Menggunakan jaringan satelit luar angkasa memungkinkan jangkauan sinyal yang luas. Jaringan ini dapat diakses di darat, pegunungan, maupun perairan, memungkinkan daerah terpencil menikmati layanan ini.

3. Memudahkan Pertolongan Darurat: Jaringan yang luas akan memudahkan siapapun yang membutuhkan pertolongan darurat, seperti bencana alam atau kecelakaan di tempat yang jauh dari pemukiman.

Kontroversi Direct to Cell Starlink di Indonesia

Meski diklaim memiliki berbagai kelebihan, rencana kehadiran Direct to Cell Starlink di Indonesia masih menjadi kontroversi karena dianggap mengancam eksistensi provider telekomunikasi yang sudah ada di Indonesia.

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O Baasir, menyatakan harus ada regulasi dari pemerintah mengenai hal tersebut. Perusahaan telekomunikasi dalam negeri telah berinvestasi dengan nilai triliunan rupiah untuk menyediakan akses internet ke berbagai daerah tanah air.

“Kalau Direct to Cell masuk, pertanyaannya kebayang nggak, empat perusahaan seluler sudah investasi ratusan triliun dengan semua tenaga kerja dan mitra teknologi,” ungkap Marwan di XL Axiata Tower.

Saat ini, sejumlah penyedia telekomunikasi di Indonesia, seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata, dan Smartfren, dikhawatirkan akan kalah saing. Ini akan berdampak pada jutaan tenaga kerja yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan tersebut.

“Sekarang berapa banyak tenaga kerja yang bergerak sekarang di operator, rantai tata niaga, supplier, produksi, agensi, promosi, dan sebagainya. Belum lagi dunia pendidikan yang terlibat, jutaan orang terlibat, kemudian tiba-tiba datang satu pemain (Starlink) dikasih kemudahan. Saya khawatir 1-2 tahun ambruk industrinya,” jelas Marwan.

Demikian penjelasan mengenai teknologi Direct to Cell Starlink, beserta kelebihan dan kontroversinya di Indonesia.(int)

Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEWS

banner 325x300