Hasil Survei Hampir 80% Kebutaan di Sumut Disebabkan Katarak yang Tidak Dioperasi

Batangtoru, 18/10 (Batakpost.com)- Hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014–2016 oleh Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan di 15 provinsi dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas menunjukkan bahwa prevalensi kebutaan di lndonesia mencapai 3%. Dan penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan adalah katarak yang tidak dioperasi. Spesifik di Sumatra Utara, hampir 80% kebutaan disebabkan katarak yang tidak dioperasi.

Demikian disampaikan Senior Manager Community PT Agincourt Resources, Christine Pepah, dalam rilis berita PTAR tentang aksi sosial operasi mata katarak yang digelar PTAR.

Dikatakannya, operasi katarak yang diadakan PTAR merupakan salah satu kontribusi perusahaaan dalam menurunkan prevalensi buta katarak di Sumatera Utara, juga Indonesia.

BACA JUGA: Sukses Operasi 524 Mata Katarak di Tapsel, Agincourt Resources Siap Gelar Operasi Katarak Gratis di Medan

“Masalah katarak di Indonesia, khususnya Sumatera Utara, begitu mendesak untuk dituntaskan. Kami ingin berperan dalam menuntaskan masalah buta katarak ini, dengan cara mengadakan operasi katarak gratis, sebagai salah satu pilar program pengembangan masyarakat di bidang kesehatan,” katanya.

Selain itu, Manajemen PTAR menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan pihak RS Bhayangkara sebagai tempat penyelenggaraan operasi katarak gratis di Batangtoru, demikian juga Forkompimda Tapanuli Selatan (Tapsel) yang mendukung program tersebut sehingga dapat berjalan dengan lancar.

PTAR meyakini operasi katarak ini akan memberikan dampak positif berkelanjutan kepada para penerima manfaat dan keluarga serta lingkungan masyarakat di sekitarnya.

Saat menderita katarak, seseorang dapat kehilangan produktivitasnya dan menambah beban ekonomi keluarga. Namun, setelah menjalani operasi dan penglihatannya kembali jelas, orang tersebut bisa produktif lagi, berkegiatan secara mandiri, mobilitas meningkat, berelasi sosial dan berkontribusi kepada komunitasnya, serta sejahtera dan sehat secara emosional.

Manager Public Relations PT Agincourt Resources, Reni Radhan, tengah berbincang dengan penderita katarak. Lebih dari 100 pasien memadati RS Bhayangkara, Batangtoru, pada 15 Oktober 2022, hari terakhir operasi katarak gratis yang diadakan Tambang Emas Martabe. (Doc PTAR)
Manager Public Relations PT Agincourt Resources, Reni Radhan, tengah berbincang dengan penderita katarak. Lebih dari 100 pasien memadati RS Bhayangkara, Batangtoru, pada 15 Oktober 2022, hari terakhir operasi katarak gratis yang diadakan Tambang Emas Martabe. (Doc PTAR)

Salah seorang peserta operasi mata katarak Gahban Lubis (55), yang mengajar di sebuah Sekolah Dasar di Lubuk Kapundung, Kabupaten Mandailing Natal, mengaku lebih bersemangat mengajar setelah menjalani operasi katarak. Bila tadinya ia tidak leluasa mengajar di luar ruang karena pandangan pada mata kirinya kabur, pasca-operasi ia berniat bisa mengajar di luar ruang.

“Sewaktu katarak selama 3 tahun ini saya biasa mengajar di dalam kelas, sedangkan di luar kelas ada teman yang membantu saya. Setelah penglihatan saya normal lagi, saya bisa lebih mengawasi murid-murid dan mengajar di luar kelas,” ungkapnya Gahban.

Pandangannya yang sebentar lagi normal setelah operasi pun akan memudahkannya menjalani masa pensiun beberapa tahun mendatang.

BACA JUGA: BI Dorong Peningkatan UMKM dan Pariwisata Samosir Lewat Toba Jou Jou Festival 2022

“Alhamdulillah, saya bisa mengikuti operasi katarak gratis ini. Bisa mengajar murid-murid lebih baik lagi, dan nanti ketika pension, saya bisa berkebun. Terima kasih Tambang Emas Martabe,” tutur Gahban.

Dokter spesialis mata, dr. Jusni Saragih, Sp.M, yang turut melaksanakan operasi di RS Bhayangkara, Batangtoru, juga mengapresiasi komitmen PTAR menggelar operasi katarak gratis dengan menjaring pasien dari daerah-daerah terpencil dan kantong-kantong masyarakat yang membutuhkan. Operasi katarak ini menurutnya, menjawab kebutuhan warga. Sebab, sebagian warga penderita katarak membiarkan matanya tidak dioperasi karena berbagai faktor, antara lain kesulitan biaya untuk menjalani

operasi, area tinggal jauh dari fasilitas kesehatan, dan minimnya kesadaran warga terhadap kesehatan mata.

“Katarak hanya bisa disembuhkan dengan operasi. Dan operasi katarak yang diadakan PTAR ini dapat menuntaskan berbagai kendala di masyarakat. Saya berharap ini bukan terakhir kalinya PTAR mengadakan operasi katarak gratis, tetapi terus-menerus, karena kegiatan ini benar-benar membantu masyarakat,” ujar Jusni. (ril)