Segenap kru batakpost.com mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H/2024, Semoga doa dan usaha kita diterima oleh Allah Swt. Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Teknologi

Era Kecerdasan Buatan Membayangi Masa Depan Jurnalisme

134
×

Era Kecerdasan Buatan Membayangi Masa Depan Jurnalisme

Sebarkan artikel ini
Era Kecerdasan Buatan Membayangi Masa Depan Jurnalisme
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Jakarta, 26/2 (Batakpost.com) – Dalam era teknologi yang berkembang pesat, ketidakpercayaan masyarakat terhadap keandalan berita semakin meningkat. Ancaman AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan semakin mengaburkan masa depan jurnalisme, demikian yang disampaikan oleh mantan Direktur Google News, Jim Albrecht, melalui tulisan kolomnya di The Washington Post.

Albrecht mengibaratkan kecerdasan buatan sebagai serigala yang mengintai, dapat mengancam keberlangsungan jurnalisme tradisional. Ia menyoroti pergeseran dalam konsumsi berita, di mana AI menjadi penentu utama dalam menafsirkan dan menyajikan informasi kepada pengguna.

Advertisement
banner 325x300
Advertisement


“Di era internet, kita melihat platform-platform yang merampas berita dari sumber aslinya dan mengolahnya melalui robot untuk dipublikasikan sebagai produk mereka sendiri,” ujar Albrecht, menggarisbawahi peran AI dalam mengubah dinamika distribusi berita.

Perdebatan seputar kompensasi dan kontrol algoritma menjadi semakin tidak relevan, seiring chatbot dan model AI lainnya menjadi primadona dalam akses informasi. Albrecht menggambarkan model pendapatan industri media yang kini tengah hancur, memunculkan pertanyaan esensial: siapakah yang mengendalikan arus informasi di era AI ini?

Tak hanya Albrecht yang meragukan masa depan jurnalisme, media The New York Times (NYT) pun menggugat OpenAI terkait pelanggaran hak cipta. Mereka menuduh OpenAI memanfaatkan produk mereka untuk kepentingan pesaing, sejalan dengan kekhawatiran akan penggantian peran jurnalis oleh AI.

Albrecht menegaskan perlunya adaptasi industri media terhadap perubahan ini, dengan lebih fokus pada interaksi dengan pengguna daripada sekadar menyajikan berita. “Di masa depan, penerbit harus lebih memprioritaskan percakapan dengan pengguna daripada sekadar produksi artikel,” ungkapnya.

Dengan demikian, keberadaan kecerdasan buatan menghadirkan paradigma baru dalam dunia jurnalistik, memaksa industri media untuk menyesuaikan strategi agar tetap relevan di tengah perubahan ini.(int)

Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEWS