Inflasi Juli 2022 di Sibolga 6,98 persen, Tertinggi sejak 4 Tahun Terakhir

Sibolga, 17/8 (Batakpost.com)- Kota Sibolga mengalami inflasi tertinggi sejak 4 tahun terakhir, yaitu pada bulan Juli 2022, dengan angka 6,98 persen. Ada pun penyumbang tingginya angka inflasi itu dari Komoditas Hortikultura terutama cabai merah mencapai 0.33 persen.

Hal itu disampaikan Kepala KPw BI Sibolga, Aswin Kosotali, pada acara Penanaman Bersama Komoditas Cabai Merah dalam Program Urban Farming yang digelar BI Sibolga di Aula Graha Aulia BI Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (16/8) sore.

“Jika kita telusuri, inflasi bahan pangan menjadi salah satu yang sangat dirasakan masyarakat pada kondisi ini. Secara tahunan, kelompok Volatile Foods Nasional mengalami inflasi sebesar 11,47 persen. Sedangkan inflasi di Kota Sibolga sendiri pada bulan Juli 2022 mencapai 6.98 persen, dan kelompok volateli foods mengalami inflasi sebesar 15,26 persen. Angka inflasi ini merupakan yang tertinggi dalam 4 tahun terakhir,” ungkap Aswin.

BACA JUGA: BI Sibolga Lakukan Penanaman Bersama Komoditas Cabai Merah dalam Program Urban Farming

Oleh karena itu Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) maupun Kementerian/Lembaga terbaik melakukan serangkaian penguatan sinergi yang diwujudkan melalui gelaran Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan.

Gerakan ini kata Aswin, terintegrasi secara end-to-end, bersifat nasional, serta berlandaskan kerangka pengendalian inflasi 4 k, yaitu, Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

“Program yang sedang kita laksanakan hari ini mendukung salah satu aspek yaitu Ketersediaan Pasokan, bernama gerakan tanam cabai di pekarangan atau Urban Farming yang dilaksanakan di seluruh wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia,” papar Kosotali.

Aswin juga menjelaskan, Program Urban Farming atau pertanian perkotaan, menjadi solusi yang digalakkan, di mana budidaya tanaman pangan dapat dilakukan di pekarangan rumah sendiri.

“Program ini merupakan salah satu bentuk dari pengendalian inflasi yang didukung oleh tim pengendalian inflasi daerah secara nasional. Dengan penanaman pangan melalui Urban Farming pasokan cabai merah rumah tangga akan terbantu sehingga menekan inflasi cabai merah dari sisi supply maupun demand (permintaan),” ujarnya.

BACA JUGA: 2 Siswa SD Kakak Beradik Tenggelam di Tapteng, 1 Ditemukan Meninggal

Atas dasar hal tersebut, program Urban Farming ini direalisasikan melalui pembagian bibit cabai merah sebanyak 3.500 bibit di seluruh Kota Sibolga. Bibit tersebut akan dibagikan kepada beberapa kelompok masyarakat, sasaran salah satunya adalah kelompok PKK, persatuan istri lembaga, dan lainnya, sambung Aswin.

Ditegaskan Aswin, bahwa program tersebut sudah dikonsepkan agar dapat terus berjalan secara berkelanjutan, sehingga dilakukan beberapa rangkaian kegiatan lanjutan, seperti pemberian bantuan teknis pelatihan budidaya cabai merah, dan melakukan monitoring secara bertahap dan berkelanjutan.

“Program tanaman cabai merah pada tiap kelurahan juga akan diperhatikan secara rutin selama satu tahun ke depan melalui berbagai kegiatan komunikasi Bank Indonesia Sibolga dengan stakeholder daerah serta penerima bibit cabai merah lainnya,” jelas Aswin.

Secara jangka panjang kegiatan Urban Farming ini juga dapat mendorong kreativitas dari masyarakat untuk melakukan proses hilirisasi dari hasil panen cabai merah untuk dijadikan produk turunan tingkat lanjut seperti pembuatan saus sambal hingga boncabai. Sehingga bentuk pembinaan yang dilakukan oleh KPw BI Sibolga bersama dinas terkait dalam bentuk end-to-end proses, baik dari penanaman hingga peningkatan nilai tambah untuk menjadi produk yang memiliki nilai jual, tutup Aswin.

BACA JUGA: Pj Bupati Tandatangani Verifikasi Penetapan LBS Menjadi LSD Untuk Wilayah Tapteng

Wali Kota Sibolga H Jamaluddin Pohan yang hadir dalam acara itu, mengapresiasi program yang dilaku BI Sibolga Sibolga. Menurutnya tidak ada alasan untuk tidak melakukan Urban Farming di Kota Sibolga. Untuk itulah dia meminta PKK Kota Sibolga menjadi corong dan contoh untuk membuktikan program itu agar dapat dicontoh masyarakat lainnya.

“Saya termasuk ahli dalam menanam bawang dan itu sudah pernah saya lakukan dan berhasil. Kenapa bawang itu bisa tumbuh dengan baik, karena saya bisa berbicara dengan bawang itu. Arti bisa berbicara, saya mengerti apa yang dibutuhkan bawang itu. Nah, kalau itu juga kita lakukan dalam menanam cabai merah ini, pasti berhasil,” ucapnya.

Untuk itulah dia meminta PKK Kota Sibolga menjadi corong dan contoh untuk mensukseskan program Urban Farming di Kota Sibolga.

“Kegiatan-kegiatan PKK yang lainnya agak dikurangi dulu, fokus dulu menjalankan Urban Farming ini, agar kita bisa menekan inflasi di Kota kita ini. Karena kalau terlampau tinggi inflasi itu bisa bahaya juga,” tandasnya. (Jas)