Segenap kru batakpost.com mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H/2024, Semoga doa dan usaha kita diterima oleh Allah Swt. Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Berita UtamaBudaya

Fakta Keberadaan Oeang Repoeblik Tapanuloe (ORITA) dan Mesin Cetaknya

555
×

Fakta Keberadaan Oeang Repoeblik Tapanuloe (ORITA) dan Mesin Cetaknya

Sebarkan artikel ini
Inilah mesin yang mencetakn ORITA. (batakpost.com/Jason Gultom)
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Karena usulan mereka tidak diterima Wali Kota, akhirnya mereka mengajukan proposal ke Bank Indonesia Sibolga. Saat itu pihak Bank Indonesia besedia dan sudah turun ke tempat mereka untuk melakukan pengecekan dan mengambil foto mesin cetak ORITA. Pihak BI berjanji akan berusaha membantu, namun setelah ditunggu sekian lama tidak ada hasil.

“Akhirnya teman saya Horas Siregar berangkat ke Jakarta langsung ke Bank Indonesia. Menurut keterangan BI Jakarta, harus ada klise uang ORITA sebagai bukti bahwa mesin tersebut pernah mencetak uang ORITA. Padahal waktu itu klise uang ORITA terbuat dari serat kayu, dan itu tidak bisa lagi ditemukan. Sejak itulah teman saya Horas Siregar tidak pulang lagi ke Sibolga ini sampai sekarang,” kenang Bagdani.

Advertisement
banner 325x300
Advertisement


Karena tidak ada kepastian, lanjut Bagdani, akhirnya mesin cetak ini dititip kepadanya karena dia memiliki gudang yang lumayan lebar sehingga bisa menyimpan alat-alat mesin percetakan.

Salah satu uang ORITA pecahan 500 rupiah yang pernah dicetak oleh mesin milik Horas Siregar putra pemilik percetakan Philemon Bin Harun Siregar  (Batakpost.com/Jason Gultom)            

Lebih lanjut dikatakan Bagdani, setelah membaca berita yang saya tulis di Harian METRO TAPANULI tentang ORITA, ia langsung teringat tentang keberadaan mesin cetak tersebut.

“Sebenarnya saya tidak tahu banyak tentang keberadaan mesin cetak uang ini, karena yang mengetahui sejarah tersebut adalah orangtua teman saya, Bapak Philemon Siregar. Karena merekalan pertama kali yang memiliki percetakan di Sibolga ini. Karena tidak ada yang memperdulikan, mesin cetak ini kami simpan begitu saja di gudang,” ujarnya lagi.

Hasil amatan saya waktu itu, mesin pencetak ORITA itu sudah banyak peralatannya yang berkarat. Mesin cetak ini terdidi dari tiga bagian, dan ketiganya masih tersimpan di gudang milik Bagdani. Sedangkan uang ORITA hasil cetakan mesin itu masih ada tertinggal di gudang.

Saya masih sempat mengabadikan uang pecahan 500 rupiah yang dicetak pada tanggal 5 Januari 1947-1949 nomor seri 45917. Sedangkan pada bagian mesin cetak tedapat tulisan “The Chandler and price co Cleveland, ohic USA”.

Selain uang pecahan 500 rupiah juga terdapat pecahan uang satu rupiah yang dicetak pada tanggal 25 September 1947, dengan bukti surat keterangan dari Keresidaenan Tapanoeli.

Bagdani Siregar mengharapkan kala itu, agar pemerintah khususnya Pemkab Tapteng dapat memperhatikan keberadaan mesin cetak tersebut, karena jasa mesin itu telah dirasakan masyarakat Tapanuli pada masa penjajahan. Selain itu, proses percetakan uang ORITA berlangsung dulunya di Sitahuis, dan itu merupakan bagian wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Kami berharap agar Pemkab Tapteng menanggapi keberadaan mesin cetak uang ORITA ini sehingga tidak terlantar seperti sekarang ini, karena mesin cetak ini sudah permah memerima pengharagaan berupa piagam dari menteri Pariwisata RI yang menyatakan mesin ini adalah mesin pencetak uang ORITA,” pungkas Bagdani. (***)


Tinggalkan Balasan