Aksi Buru Koin di Danau Toba Jadi Hiburan Tersendiri bagi Penumpang Fery

Parapat, 3/7 (Batakpost.com)- Aksi buru uang koin yang terjadi di pelabuhan Ajibata, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, ternyata menjadi hiburan tersendiri bagi penumpang Kapal Fery Ihan Batak yang akan menyeberang ke Pelabuhan Ambarita, Kabupaten Samosir.

Setiap kapal Fery akan berangkat dari dermaga Ajibata, maka puluhan anak-anak remaja sudah siap beraksi untuk menangkap uang koin yang dilemparkan para penumpang dari atas kapal.

Mereka (pemburu koin) berteriak meminta kepada para penumpang supaya melemparkan uang. Begitu uang dilempar, maka mereka akan saling berebut untuk mendapatkan uang tersebut. Siapa yang tercepat, maka dialah yang berhak mendapatkan uang itu.

“Tulang..lemparkanlah uang koinya, kalau gak uang merah pun bisa lah lang,” teriak mereka dari bawah.

Ternyata aksi para pemburu koin ini sudah menjadi hiburan bagi mereka yang kerap menggunakan jasa penyeberangan kapal Fery Ihan Batak ini.

BACA JUGA: Bupati Harapkan Peningkatan PAD dari Pariwisata, Perizinan dan Terminal Siborongborong

Biasanya para penumpang akan berkumpul pada bagian kanan kapal, mulai dari lantai II dan III kapal. Karena biasanya para pemburu koin ini berada pada bagian kanan. Tidak sedikit di antara penumpang yang rela melemarkan uang kertas, mulai dari pecahan Rp5.000 sampai Rp50.000.

“Enak juga liatnya, mereka lincah dan jago berenangnya. Semoga mereka jadi perenang handal kelak,” kata Koko Alim warga Medan yang mau menyeberang ke Ambarita, Minggu (3/7).

Sementara menurut Serina Simbolon warga Samosir, dia sangat menikmati aksi para pemburu koin yang mampu bertahan di dalam air hampir berjam-jam. Karena sejak penumpang kapal naik sampai kapal bertolak, para pemburu koin ini tetap bertahan dalam air.

“Hebat mereka, apa kakinya gak kesemutan ya sampai segitu lamanya dalam air. Pokoknya hebatlah mereka,” pujinya. Pun demikian katanya lagi, kasihan juga liatnya, karena mereka sering sampai agak ke tengah danau memburu uang dari penumpang.

“Coba kalau terjadi sesuatu, kan fatal juga,” keluh Serina.

Sementara itu kalau di Pelabuhan Ambarita, aksi memburu koin tidak ada ditemui. Menurut masyarakat yang ada di sekitaran pelabuhan, anak-anak yang di sana tidak berminat memburu koin seperti yang di Ajibata.

“Hanya di Ajibata itu, kalau di sini gak ada anak-anak yang pemburu koin,” terang boru Siallangan salah seorang pedagang yang ada di sekitar pelabuhan Ambarita.

BACA JUGA: Bupati Tapanuli Utara Harapkan Daerahnya Tetap Steril dari PMK

Memang kalau dilihat dari risikonya, memang cukup rawan jika terjadi sesuatu dengan para pemburu koin itu. Bukan itu saja, uang kertas rupiah jadi rusak, karena diremas bahkan diremuk-remuk agar bisa dilempar ke danau. Barang tentu kondisi uang cepat rusak, dan terkesan seperti membuang-buang uang.

Memang di setiap dinding kapal ada tulisan yang berisikan, dilarang keras melempar koin ke danau. Hanya saja larangan itu tidak diindahkan, karena selalu ada aksi lempar koin atau uang kertas ke danau.

Sementara itu salah seorang pemburu koin yang berhasil diwawancarai media ini mengatakan, bahwa pengasilannya dari memburu koin jumlahnya angin-anginan. Jika penumpang banyak dan mau melempar koin, maka akan lumayanlah penghasilan mereka.

“Tergantung jumlah dan niat penumpangnya bang. Kalau penumpangnya baik dan rajin melempar uang, maka lumayanlah dapat bang. Kalau pelitnya, kadang-kadang mau dapat Rp5.000,” ungkapnya.

Ditanya berapa paling banyak pernah dia dapat? Menurut siswa kelas X ini pernah mendapat Rp200 ribu.

“Waktu itu ada orang kaya, banyak kali uangnya. Jadi uang limpul yang dilemparinya bang. Pokoknya panen lah kami waktu itu,” jawabnya sambil mengambil pakaiannya dari dermaga. (red)