MEDAN, Tanah rantau bagi sebagian orang adalah tempat mencari penghidupan. Bagi Nikmat Harahap, rantau punya arti lebih panjang: tempat menguji ketahanan diri, menyimpan kerinduan kepada keluarga, sekaligus ruang untuk membuktikan bahwa mimpi seorang anak muda dapat diperjuangkan dari keadaan yang serba terbatas.
Anak muda asal Medan, Sumatera Utara, itu memilih tulisan sebagai jalannya. Di sela perjuangan memenuhi kebutuhan hidup jauh dari keluarga, Nikmat tetap menulis. Kata demi kata yang semula menjadi ruang untuk menuangkan pikiran perlahan tumbuh menjadi identitas dirinya.
Kini, anak muda kelahiran 28 April 2003 tersebut telah menerbitkan dua buku. Karya pertamanya berjudul “DUNIA EMANG SEJAHAT INI”, disusul “DOA IBU YANG UDAH TIADA”.
Dua judul itu seperti memperlihatkan warna personal yang sedang dibangun Nikmat. Ia tidak mengambil jarak terlalu jauh dari kehidupan. Tulisan-tulisannya bergerak di sekitar pengalaman, pergulatan hidup, kehilangan, keluarga, dan sisi emosional manusia yang dekat dengan keseharian pembacanya.
Di dunia kepenulisan, ia menggunakan nama Nikmat HRP. Identitas tersebut juga dibawanya ke ruang digital. Selain menulis buku, Nikmat aktif sebagai kreator konten dengan
Membagikan tulisan dan karya melalui media sosial
Dari sinilah personal branding Nikmat mulai terbentuk. Ia ingin dikenal bukan semata sebagai kreator yang mengejar perhatian di media sosial, melainkan anak muda yang menggunakan platform digital untuk memperluas jangkauan karya tulisnya.
Konsistensi itu kemudian memberikan hasil ekonomi. Aktivitas sebagai kreator konten dan penulis membuat Nikmat mulai memperoleh penghasilan setiap bulan. Media sosial yang sebelumnya menjadi tempat membagikan karya perlahan menjadi bagian dari ekosistem kreatif yang sedang dibangunnya.
Menulis Sejak Sekolah
Ketertarikan Nikmat pada dunia tulis-menulis sebenarnya bukan muncul setelah ia merantau. Minat tersebut telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah.
Ia terus belajar merangkai gagasan dan menuangkannya dalam tulisan. Perjalanan itu tidak berlangsung instan. Nikmat harus membangun keberanian untuk menunjukkan karya kepada orang lain, termasuk dengan memanfaatkan media sosial sebagai ruang publikasi.
Langkah sederhana tersebut kemudian menjadi penting. Semakin sering menulis, semakin terbentuk pula karakter tulisan yang ingin dibawanya.
Baginya, menjadi penulis bukan sekadar memiliki buku dengan nama sendiri tercetak di sampul. Menulis adalah cita-cita yang sejak lama ingin diperjuangkan.
Ada alasan personal di balik mimpi tersebut. Nikmat ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Ia juga menyimpan keinginan agar suatu hari namanya dikenal lebih luas melalui tulisan-tulisan yang mempunyai manfaat bagi pembaca.
Namun, mimpi itu harus ditempuh bersamaan dengan kerasnya kehidupan sebagai anak rantau.
Jauh dari keluarga berarti banyak persoalan harus dihadapi sendiri. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Ada pekerjaan yang harus dilakukan. Ada pula kerinduan kepada rumah yang tidak selalu dapat diselesaikan dengan pulang.
Nikmat memilih tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan untuk berhenti.
Justru di tanah rantau, ia mencoba mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: mencari penghidupan dan mempertahankan mimpi menjadi penulis.
Perjuangan tersebut akhirnya melahirkan dua buku pertamanya. Bagi Nikmat, pencapaian itu bukan garis akhir. Dua buku tersebut lebih tepat disebut sebagai pintu masuk menuju perjalanan kepenulisan yang ingin terus dibangunnya.
Dari Rantau Menuju Ruang Digital
Perjalanan Nikmat juga memperlihatkan perubahan menarik dalam dunia kepenulisan generasi muda. Seorang penulis kini tidak hanya berhadapan dengan buku, penerbit, dan toko buku.
Ada ruang baru bernama media sosial
Nikmat memanfaatkan ruang tersebut untuk memperkenalkan tulisan sekaligus membangun hubungan dengan audiens. Posisi sebagai penulis dan kreator konten kemudian saling menguatkan. Buku memberikan identitas intelektual dan kreatif, sementara media sosial memperluas jangkauan personal branding-nya.
Ia sedang membangun dirinya sebagai penulis muda dari tanah rantau yang mengubah pengalaman hidup menjadi karya.
Identitas itu terasa kuat karena tidak dibangun dari cerita keberhasilan semata. Di belakangnya terdapat perjalanan seorang anak muda yang harus hidup jauh dari keluarga sembari mempertahankan cita-cita.
Bahkan judul buku “DOA IBU YANG UDAH TIADA” membawa pembaca kepada ruang emosional yang sangat personal: tentang ibu, kehilangan, dan doa. Sementara “DUNIA EMANG SEJAHAT INI” membawa nada yang dekat dengan kegelisahan generasi muda ketika berhadapan dengan kerasnya kehidupan.
Keduanya menempatkan Nikmat pada ceruk yang khas: tulisan populer dengan kedekatan emosional terhadap
Pengalaman hidup anak muda
Dari pengalaman tersebut, Nikmat membawa pesan sederhana kepada sesama anak rantau. Keterbatasan tidak harus menjadi alasan mengubur cita-cita. Kerja keras, keberanian mencoba, serta doa dan restu orang tua harus terus dibawa dalam perjalanan.
Ia percaya hasil tidak selalu datang pada saat seseorang menginginkannya. Tetapi usaha yang dijalankan secara sungguh-sungguh akan menemukan waktunya sendiri.
Nikmat Harahap memang baru berada di awal perjalanan panjang sebagai penulis. Dua buku belum cukup untuk menentukan sejauh mana langkahnya akan berjalan.
Namun setidaknya, ia telah melakukan sesuatu yang paling sulit dari sebuah mimpi: memulainya dan menjadikannya nyata.
Dari seorang anak Medan yang menyukai tulisan sejak sekolah, kemudian menjadi perantau, kreator konten, hingga menerbitkan buku, Nikmat sedang menyusun cerita hidupnya sendiri.
Dan di tanah rantau itu pula, Nikmat HRP perlahan membangun satu nama yang ingin terus dikenang melalui karya: seorang penulis muda yang tidak membiarkan kerasnya hidup menghentikan mimpinya. (red)
Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEW













