Berita UtamaBudaya

Friderik Gultom Sang Manajer Opera Batak Terdahulu

157
×

Friderik Gultom Sang Manajer Opera Batak Terdahulu

Sebarkan artikel ini
Friderik Gultom sang Manajer Opera Batak Terdahulu. (Repro Foto oleh PLOt Siantar/Thompson Hs)
Example 300x600

Oleh: Thompson Hs (Direktur PLOt Siantar)

Nama Tilhang Gultom sudah dominan diingat dalam kaitan Opera Batak terdahulu. Wajar saja. Karena karya-karya yang diciptakan Tilhang Gultom cukup banyak, terutama untuk lagu dan lakon cerita.

Lagu-lagu Opera Batak, baik yang diciptakan atas nama Tilhang Gultom maupun tanpa nama (NN) hingga kini sudah dimanfaatkan untuk industri rekaman dan entertain. Sedangkan lakon cerita yang diciptakan oleh Tilhang tidak banyak, namun fenomenal untuk ingatan penonton waktu itu.

Satu seri dari buku Prof. Rainer Carle (1990) mencantumkan empat lakon cerita yang dicipta oleh Tilhang Gultom. Keempat judul itu adalah: Sejarah Tarombo ni Si Raja Lontung, Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII, Si Boru Tumbaga dohot Si Boru Buntulan, dan Guru Saman.

Dua dari judul tersebut pernah ditampilkan ulang sejak revitalisasi Opera Batak di Tarutung tahun 2002. Si Boru Tumbaga sebagai teks percontohan untuk 20 peserta pelatihan revitalisasi hingga dapat dipentaskan kemudian di Medan, Tarutung, Jakarta (Hotel Indonesia dan TMII), Sipoholon, dan Laguboti. Sedang Guru Saman ditampilkan oleh siswa-siswa Seminari Menengah dan SMA Katolik Bintang Timur Siantar setelah PLOt beroperasi.

Dua seri buku Prof. Rainer Carle diberi judul: Opera Batak, Das Wandertheater der Toba-Batak in Nord-Sumatra. Di dalamnya ada juga judul Pulo Batu, yang dikarang oleh Sitor Situmorang dan pernah ditampilkan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1980-an serta berkolaborasi dengan AWK Samosir dan Wahyu Sihombing.

Karya-karya Opera Batak terdahulu yang diciptakan oleh Tilhang Gultom atau nama-nama lain, bagaimana itu dikelola hingga dapat dipertunjukkan untuk penonton yang membeli karcis? Tentu dapat dibayangkan, repot  si pembuat karya kalau harus mengurusi banyak hal untuk pertunjukan Opera Batak; persis sama untuk banyak kasus seni pertunjukan yang dikelola secara tradisional.

Apakah sudah ada pengelola pertunjukan karya Tilhang pada masa awal hingga terakhir dengan nama grup Serindo.

Repro foto dari buku Prof. Rainer Carle terkesan sepintas kalau Friderik Gultom adalah manajer untuk pertunjukan Opera Batak pada tahun 1928. Friderik Gultom adalah abang dari Tilhang Gultom dan ayah dari Gustafa Gultom, pimpinan Serindo kemudian.

Nama Serindo itu sendiri sebagai grup adalah singkatan dari Seni Ragam Indonesia dan muncul setelah pertunjukan di Istana Negara pada tahun 1963, atas undangan Presiden Sukarno. Sedangkan tahun 1928 nama grup yang digunakan adalah Opera Batak Sitamiang, dengan bukti administrasi keuangan grup itu masih dapat ditemukan, terutama untuk 1927. (red)