Berita UtamaToba

Bupati Samosir: Jenderal Maruli Simanjuntak Contoh Putra Batak yang Tidak Meninggalkan Identitas Budaya dan Kampung Halamannya

×

Bupati Samosir: Jenderal Maruli Simanjuntak Contoh Putra Batak yang Tidak Meninggalkan Identitas Budaya dan Kampung Halamannya

Sebarkan artikel ini
Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom saat menyambut kedatangan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Selasa (9/6/2026) dalam rangka Bhakti TNI AD di kawasan Danau Toba. (Batakpost.com/red)
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Toba, 10/6 (Batakpost.com)– Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom mengaku salut dan bangga atas kecintaan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jeneral TNI Maruli Simanjuntak akan budaya dan penghormatan terhadap leluhur dan kampung halamannya.

Kecintaan yang dilakukan Jenderal Maruli merupakan contoh nyata bagi putra-putri Batak yang telah menduduki jabatan strategis di tingkat nasional namun tetap ingat identitas budaya dan kampung halamannya.

IKLAN
IKLAN

Pesan yang disampaikan oleh Jenderal Maruli menurut Vandiko sangat relevan bagi generasi muda di kawasan Danau Toba yang kini menghadapi tantangan era globalisasi. Di mana pendidikan, karakter, dan kecintaan terhadap tanah kelahiran harus berjalan beriringan.

“Kita salut dan bangga akan kecintaan dari KSAD Bapak Jenderal TNI Maruli Simanjuntak akan budaya Batak dan juga kampung halaman serta leluhur. Ini menjadi contoh bagi seluruh putra-putri Batak walaupun sudah sukses tetapi jangan sekali-kali melupakan identitas, budaya, apalagi leluhur,” kata Vandiko saat mengikuti rangkaian kegiatan KSAD di Kabupaten Toba, Selasa (9/6/2026).

Dikatakan Bupati dua periode itu, kehadiran KSAD di kawasan Danau Toba bukan hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga menunjukkan bahwa pembangunan dapat hadir melalui kolaborasi berbagai pihak.

Vandiko mengungkapkan bahwa manfaat program sumur bor yang digagas KSAD telah dirasakan masyarakat Samosir. Melalui komunikasi dan sinergi yang dibangun antara Pemerintah Kabupaten Samosir dengan TNI AD, sebanyak 30 unit sumur bor telah dialokasikan dan dikerjakan di berbagai wilayah Kabupaten Samosir.

“Kami mengapresiasi perhatian dan kepedulian Bapak KSAD terhadap masyarakat di Bona Pasogit. Program sumur bor dan program lainnya merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Vandiko menambahkan, pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada kemampuan fiskal pemerintah daerah. Kemampuan membangun jejaring, memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, TNI, dan berbagai pemangku kepentingan, menjadi bagian penting dalam mempercepat hadirnya manfaat pembangunan bagi masyarakat.

Karena itu, ia berharap kolaborasi yang telah terjalin dengan TNI dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak program yang dapat dirasakan masyarakat Samosir, khususnya di sektor air bersih, infrastruktur dasar, dan peningkatan kualitas hidup warga.

“Atas nama pemerintah dan masyarakat, kami merasa bangga mendapat bantuan sumur bor dari KSAD Bapak Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Semoga ke depan semakin banyak program yang dapat dibawa ke Samosir,” ucapnya.

Kehadiran Jenderal bintang empat Maruli Simanjuntak ke kawasan Danau Toba untuk Bhakti TNI AD di Desa Hutabulu Mejan, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara. Dalam kegiatan itu Jenderal Maruli tidak hanya memimpin Bhakti TNI AD di tanah leluhurnya, di Desa Hutabulu Mejan, tetapi juga berkesempatan untuk lebih mengenal adat istiadat Batak serta melakukan ziarah ke makam leluhurnya, Ompu Sobosihon Boru Sihotang.

“Keinginan ini sebenarnya sudah begitu lama direncanakan untuk berbuat di tanah leluhur dengan mendirikan sumur bor melalui Bhakti TNI AD, serta menyaksikan secara langsung adat Batak yang sesungguhnya sangat luar biasa,” ujar Maruli.

Maruli pun merasa bersyukur dengan adanya kegiatan di tanah leluhurnya sehingga berkesempatan bertemu dengan keluarga besar Simanjuntak, sekaligus melakukan ziarah serta menyaksikan ritual adat Batak secara langsung.

“Ide program air sebetulnya dicetuskan oleh senior saya, di mana mereka mengingatkan saya bahwa di Indonesia telah dilakukan program pengairan, tetapi mengapa di kampung sendiri (tanah leluhur) tidak dilakukan. Dan inilah awal dari dimulainya pembangunan yang berasal dari program TNI AD,” tuturnya. (red)

Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEW