“Hanya ada dua sekolah di Sumatera Utara yang mendapatkan guru pendamping ini. Satu di SMA Matauli Pandan, dan satu lagi di Padangsidimpuan,” ungkapnya.
“Jadi ini adalah bantuan penutur asli Bahasa Inggris untuk membantu meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris di sekolah kami. Dan Miss Katarina mendampingi kami di sekolah ini selama 8 bulan,” terangnya.
Dalam mengajar, Miss Katarina tidak diperkenankan sendiri di kelas, harus didampingi oleh guru Bahasa Inggris untuk membantu menjelaskan dan memperlancar proses mengajar. Sedangkan kurikulum yang dipakai tetap Kurikulum Merdeka Belajar, hanya saja metode mengajarnya yang berbeda.

“Kita banyak mencontoh metode mengajar yang diberikan Miss Katarina seperti di negaranya, termasuk dalam menyusun master plan (rencana utama) mengajar. Intinya, mana yang baik kita adopsi di sekolah kita ini,” ucap Erma menambahkan.
Ditanya bagaimana perasaannya selama mengajar lebih kurang 1 bulan di SMA Matauli? Menurut Katarina dia sangat senang, karena memang dia dikirim ke Indonesia berkat hasil seleksi ketat yang dilakukan oleh AMINEF, ditambah lagi dia baru pertama kali ke Indonesia.
“Saya sangat senang bisa mengajar di sekolah ini, karena rasa ingin tahu siswanya sangat tinggi. Selain itu juga, saya belajar tentang budaya Indonesia khususnya masyarakat yang ada di Kabupaten Tapanuli Tengah,” jawabnya riang.
Sedangkan hal yang berbeda di negaranya terkait pembelajaran bahasa asing, terletak pada jenjang sekolah. Kalau di Amerika Serikat belajar bahasa asing itu dimulai di tingkat SMA, sementara di Indonesia sejak SD sudah diajarkan bahasa asing atau Bahasa Inggris. Itu artinya, peluang pelajar Indonesia untuk menguasai bahasa asing atau bahasa kedua cukup tinggi.
Selanjutnya Baca: Miss Lajang…