Segenap kru batakpost.com mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 H/2024, Semoga doa dan usaha kita diterima oleh Allah Swt. Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
Sibolga

QRIS Inovasi Pembayaran Praktis dan Aman di Era Digitalisasi

405
×

QRIS Inovasi Pembayaran Praktis dan Aman di Era Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
Bank Indonesia Sibolga saat sosialisasi QRIS. (Batakpost.com/red)
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Oleh: Sahat Jason Gultom

Pendahuluan.

Advertisement
banner 325x300
Advertisement


Pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi saat ini telah menyentuh sisi kehidupan manusia. Transaksi dan jual beli lewat aplikasi maupun media sosial menjadi trend saat ini, karena akses yang tak terbatas lagi.

Tentu pula sistem pembayaran turut berkembang guna mendukung transaksi tersebut. Sistem pembayaran secara digital atau elektronik maupun online hadir dengan menawarkan berbagai kemudahan dan keuntungan bertransaksi.

Hanya saja apakah sistem pembayaran itu aman dan terawasi? Karena tidak sedikit masyarakat yang menjadi korban penipuan lewat sistem pembayaran digital ini.

Untuk mengantisipasi hal itulah Bank Indonesia mengeluarkan peraturan nomor 20/6/PBI/2018 tentang uang elektronik.

Inovasi transaksi digital ini pun semakin pesat berkembang apalagi di tengah pandemi COVID-19 yang memang membatasi transaksi secara langsung. Para penyedia jasa transaksi pun melahirkan sistem pembayaran berbasis QR (Quick Reponce). Dengan sistem ini masyarakat semakin dimudahkan karena hanya cukup melakukan scan barcode lewat ponsel android.

Sebut saja OVO, Danaku, Link Aja, Go Pay dan aplikasi pembayaran digital lainnya. Dengan QR, beragam transaksi dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, ditambah lagi keuntungan melalui promo yang didapat penggunanya.

Sudah barang tentu kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan masing-masing platform penyedia jasa harus diwaspadai apakah sistem ini aman dan terawasi. Karena dalam setiap transaksi harus melakukan top up dana (memindahkan uang dari rekening ke penyedia jasa) untuk dapat melakukan beragam transaksi.

Bank Indonesia melihat peluang ini semakin berkembang dan perlu dilakukan pengawasan dengan menyatukan sistem transaksi lewat satu QR Code agar setiap transaksi dapat diawasi.

Maka sejak 1 Januari 2020 Bank Indonesia selaku Bank Central meluncurkan pembayaran dengan metode Quick Response Indonesian Standard (QRIS). Di mana QRIS ini menjadi distandardisasi dari masing QR (Quick Reponce). Jika sebelumnya setiap penyedia jasa sistem pembayaran online memiliki QR Code masing-masing, kini disatukan dalam QRIS dan transaksinya langsung dalam pengawasan Bank Indonesia. Bahkan saat ini sejumlah bank seperti Bank Mandiri, dan BNI sudah dilengkapi dengan QRIS, sehingga transaksi langsung terdebit dari rekening.

Hanya saja yang menjadi kendala di tengah masyarakat, belum terbiasanya dengan pola perubahan dari uang fisik ke uang elektronik ini. Demikian juga instansi pemerintah dan BUMN belum seluruhnya memanfaatkan QRIS yang dilahirkan oleh Bank Indonesia. Sosialisasi tentu menjadi solusi utama agar masyarakat dan instansi lainnya semakin mudah memahami dan merasakan manfaatnya.

Isi/Pembahasan.

Harus kita akui bahwa inovasi sistem pembayaran digital menggunakan QRIS yang ada saat ini, telah mempengaruhi metode pembayaran di tengah-tengah masyarakat, baik yang ada di wilayah kerja KPw BI Sibolga. Hanya saja sistem perubahan dari pembayaran uang fisik ke uang elektronik masih menjadi tantangan tersendiri di tengah-tengah masyarakat khususnya di 16 Kabupaten/Kota Wilayah Kerja BI Sibolga.

Transaksi bayar pakir di Sibolga dengan menggunakan QRIS. (Batakpost.com/red)

KPw Bank Indonesia Sibolga sebenarnya cukup gencar mensosialiasikan sistem pembayaran Quick Response Indonesian Standard (QRIS) ini di wilayah kerjanya, hanya saja karena keterbatasan personel  dan luasnya wilayah kerja sehingga belum dapat menyentuh setiap lapisan masyarakat dan instansi.

Khusus di Kota Sibolga tempat berdirinya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga, telah melakukan beragam terobosan pemanfaatan QRIS. Mulai dari rumah ibadah (Masjid dan Gereja), Restoran, Juru Parkir, Warung Kopi, para Pedagang di Pasar sudah kenal dengan QRIS. Dan luar biasanya, para Abang Becak yang bergabung di Komunitas Abang Becak Sibolga, juga sudah menggunakan QRIS.

Sedangkan untuk wilayah Tapanuli Utara yang merupakan salah satu Wilayah Kerja BI Sibolga, juga sudah memanfaatkan QRIS untuk pembayaran parkir di Bandara Internasional Silangit. Bahkan di Kabupaten ini pengguna Merchant QRIS tertinggi, yakni 10.558 pengguna (data 30 Juni 2022) dari 16 Kabupaten/Kota lainnya.

Masih dari data tanggal 30 Juni 2022, pengguna Merchant QRIS di Wilayah Kerja BI Sibolga sudah di angka 88.001 pengguna. Tentu peran serta dari stakeholder, khususnya para kepala daerah di 16 Kabupaten/Kota sangat menentukan peningkatan pengguna QRIS di wilayahnya masing-masing. Karena harus diakui, sangat banyak manfaat yang diperoleh menggunakan QRIS, baik itu untuk individu maupun kelompok penjual (Merchant).

Untuk kalangan individu keuntungan yang diperoleh yaitu, pembayaran dengan mudah dan cepat karena hanya perlu satu scan QR Code. Tidak perlu lagi bawa uang tunai. Tidak perlu memikirkan QR siapa yang terpasang, dan transaksi terlindungi karena diawasi BI.

Sedangkan untuk Merchant, keuntungannya berpotensi menaikkan penjualan. Meningkatkan branding. Pembayaran lebih kekinian dan praktis. Transaksi uang keluar dan masuk tercacat otomatis. Tidak perlu menyediakan uang kembalian. Dan terhindar dari peredaran uang palsu.

Keuntungan ini sudah dirasakan langsung para pengusaha yang ada di wilayah kerja BI Sibolga, seperti yang disampaikan Ayu Soraya Nasution dan Riki Wijaya saat tampil sebagai narasumber pada acara talk show yang digelar BI Sibolga belum lama ini di Sibolga.

Menurut Ayu selaku owner Matahari Cafe Sibolga, dengan menggunakan QRIS dia dapat meminimalisasi kecurangan karyawan karena semua transaksi tercatat secara otomatis. Selain itu juga uang aman karena langsung tersimpan ke rekening.

Hal senada juga diakui Riki Wijaya, pemilik Lopo Mandheiling Coffee yang berdomisili di Kabupaten Mandailing Natal. Menurut pengusaha muda itu, dengan adanya QRIS manajemen keuangannya tertata rapi, karena tidak tercampur antara uang penjualan dan uang usaha.

Di tengah banyaknya manfaat yang diperoleh dengan menggunakan QRIS, memang masih ada jajaran pemerintah dan BUMN belum juga memanfaatkan QRIS ini. Salah satu contoh dari hasil pengalaman penulis, sewaktu menyeberang dari Pelabuhan Ajibata Parapat, Kabupaten Simalungun menuju Pelabuhan Tuktuk, Kabupaten Samosir, pada Rabu (29/6/2022). Di mana pihak penyedia tiket Kapal Fery Ihan Batak yaitu ASDP Sibolga belum menggunakan QRIS, mereka masih memakai penyedia jasa OVO, Kartu E-Tol dan Kartu Debit. Sebaikya BUMN selaku badan usaha milik pemerintah sudah harus menggunakan layanan QRIS yang dihadirkan pemerintah lewat Bank Indonesia sebagai contoh dan sosialisi kepada masyarakat dan juga pengusaha swasta.

Kesimpulan/Penutup.

Inovasi yang dihasilkan Bank Indonesia melalui sistem pembayaran QRIS, adalah terobosan baru dan langkah strategis dalam melakukan transaksi di era digital ini. Apalagi di tengah pademi COVID-19 yang terjadi dalam kurun waktu dua tiga tahun terakhir ini. Di mana sistem ini sangat membantu masyarakat dalam pembatasan transaksi tatap muka.

Kepala KPw BI Sibolga Aswin Kosotali bersama dengan Wali Kota Sibolga H Jamaluddin Pohan saat launching QRIS kepada para abang becak yang ada di Kota Sibolga. (Batakpost.com/red)

Beberapa kendala memang masih ditemui di lapangan, seperti batasan waktu dan jangkauan jaringan internet di beberapa wilayah kerja BI Sibolga, seperti di kepulauan Nias dan Kabupaten lainnya. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kurang melek dengan teknologi android yang sedikit banyaknya mempengaruhi akan pemanfaatan dan sosilisasi QRIS ini. Demikian juga masih adanya BUMN dan instasi Pemerintah yang belum menggunakan QRIS.

Terlepas dari kekurangan itu, harus diakui kehadiran QRIS yang dibidani oleh Bank Indonesia telah mampu merubah dan mempengaruhi sistem pembayaran dari tunai ke nontunai. Demikian juga polarisasi perubahan dari uang fisik ke uang digital di tengah-tengah masyarakat sudah mulai dapat diterima karena memang perubahan itu aman dan fungsinya sama seperti uang fisik ditambah keuntungan transaksinya yang tidak ribet.

Diharapkan dengan adanya keterlibatan dari berbagai sektor termasuk peran media, para pemangku kebijakan, dan juga berbagai pihak, sistem pembayaran QRIS akan tersosiliasi dengan sempurna kepada masyarakat dan juga semua kalangan, karena teknologi akan terus berkembang, dan masyarakat harus mampu menerima perubahan itu.

Dan bagi Bank Indonesia sendiri, kehadiran sistem pembayaran digital ini sangat menghemat biaya cetak uang kertas maupun uang logam.

Dengan demikian harus diakui kehadiran QRIS menjadi Inovasi baru sistem pembayaran praktis dan aman di era digitalisasi, serta membawa keuntungan untuk semua kalangan. (***)