Berita UtamaToba

Pendidikan Agama Kristen dan Kearifan Lokal Dalihan Na Tolu

326
×

Pendidikan Agama Kristen dan Kearifan Lokal Dalihan Na Tolu

Sebarkan artikel ini
Dosen IAKN Tarutung Pdt. Dr. Junjungan Simorangkit,, M.Th saat menyampaikan paparan dalam kegiatan Pengabdian masyarakat di Kabupaten Toba, Sabtu (9/9/2023) di Aula Kemenag Toba. (Batakpost.com/Ist)
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Toba, 10/9 (Batakpost.com)- Kegiatan Pengabdian masyarakat adalah salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi. Tentu dosen yang mengajar di perguruan tinggi harus melakukannya agar masyarakat yang di luar kampus dapat menikmati hasil kajian dari perguruan tinggi tersebut.

Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan, juga melakukan kegiatan pengabdian di tengah-tengah masyarakat, salah satunya di Kabupaten Toba.

Kegiatan pengabdian yang merupakan kerja sama IAKN Tarutung dengan Kemenag Toba, dilangsungkan pada Sabtu (8/9/2023) di Aula Kemenag Toba. Dengan tema “Pendidikan Agama Kristen dengan Kearifan Lokal” sebanyak 50 peserta yang terdiri dari guru agama kristen se-Toba mengikutinya sangat antusias.

Ada pun yang menjadi narasumber pada kegiatan itu adalah Kakan Kemenag Toba Wanton Naibaho, S.Sos, M.Pd, dengan materi “Kebijakan Kementerian Agama”. Pembicara kedua adalah Pdt. Dr. Jungjungan Simorangkir (Dosen IAKN Tarutung) dengan materi “Pendidikan Agama Kristen dan Kearifan Lokal”.

Dalam paparannya Junjungan mengatakan, dengan adanya kegiatan tersebut para guru agama yang ada di kawasan Toba semakin diperlengkapi dengan mempersiapkan diri akan kebijakan pemerintah saat ini. “Guru harus terpanggil di depan untuk mengedukasi masyarakat akan kebijakan Kementerian Agama, terutama moderasi beragama,” katanya.

Selain itu kata dia, guru agama juga harus dapat menggunakan metode pembelajaran di sekolah dengan menerapkan budaya lokal. Di tanah Batak ada kearifan lokal yang disebut dengan “Dalihan Na Tolu”. Kearifan lokal ini dapat digunakan sebagai sarana untuk proses pembelajaran dengan menghubungkannya dengan kitab suci.

“Kearifan lokal seperti Dalihan Na Tolu ini mengajarkan kepada kita semua, walaupun berbeda posisi tetapi mengajarkan untuk saling mengasihi dalam persaudaraan yang indah,” ungkapnya. (Jasgul)

Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEWS

banner 325x300