Berita UtamaPariwisata

Perang Timur Tengah Berdampak Terhadap Kunjungan Wisatawan ke Tuktuk Samosir

Salah satu fasilitas hotel di Tuktuk Samosir. Saat libur lebaran ini jumlah pengunjung berkurang karena turut dipicu perang yang terjadi di Timur Tengah. (Batakpost.com/red)

Samosir, 20/3 (Batakpost.com)– Dampak perang Timur Tengah yang masih berlanjut hingga saat ini ternyata bedampak terhadap pariwisata Danau Toba, khususnya di objek wisata Tuktuk yang berada di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara.

Hasil pantuan media ini dari beberapa hotel yang ada di Tuktuk menyebutkan bahwa jumlah tamu hotel menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya turut dipicu perang Timur Tengah dan juga kondisi pemulihan beberapa daerah pascabencana Sumatera-Aceh.

IKLAN
IKLAN

Saragih, manager Toba Village Inn yang berada di Tuktuk menyebutkan, bahwa banyak penerbangan dari Eropa yang membatalkan jadwal penerbangannya akibat perang Timur Tengah. Dan tamu mereka biasanya banyak dari mancanegara.

“Kamar kita masih tersedia untuk semua tipe. Biasanya libur lebaran seperti ini sudah full (penuh). Salah satu penyebabnya akibat perang Timur Tengah, karena banyak membatalkan penerbangan,” katanya, Kamis (19/3/2026).

Selain akibat perang Timur Tengah, jumlah pegunjung juga dipengaruhi pemulihan sejumlah daerah pascabencana yang terjadi pada November 2025 lalu.

“Saat liburan Tahun Baru 2026 kemarin yang paling terasa sepinya. Tamu kita dari kawasan Sibolga, Taput, Tapteng, Tapsel, hingga ke arah Rantau Parapat saja, sama sekali tidak ada,” ungkapnya.

Ketersediaan kamar hotel hingga Kamis (19/3/2026) hampir menyeluruh di Tuktuk, termasuk di Marianna Hotel. Menurut resepsionis, kamar mereka untuk semua tipe masih tersedia.

Demikian juga dengan Samosir Cottages Resort, juga kamar untuk semua tipe masih tersedia.

Bukti menurunya pengunjung hotel di kawasan Tuktuk Samosir juga terpantau dari aktivitas café-cafe dan rumah makan yang ada di sana. Para pemilik usaha mengaku bahwa jumlah pengunjung sangat berkurang khususnya para bule.

“Sangat terasa dampaknya. Kalau tahun-tahun sebelumnya libur lebaran seperti ini sudah ramai, tapi sekarang sudah tanggal 19 Maret 2026 masih sepi. Padahal sekolah sudah libur. Selain wisatawan lokal, para bule juga sepi, karena dampak perang Timur Tengah,” ujar R. Sidabutar salah seorang pemilik café.

Pengaruh dampak perang Timur Tengah terhadap pariwisata Indonesia juga diakui Sekretaris Jenderal Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran. Dia menegaskan bahwa bisnis pariwisata tanah air sudah merasakan dampak dari konflik tersebut, terutama terhadap wisatawan mancanegara.Menurut Yusran, salah satu faktor utama adalah pembatasan jalur penerbangan internasional.

Aksesibilitas udara menjadi kunci bagi wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia, sehingga gangguan di Timur Tengah turut memengaruhi kedatangan turis.

“Akibat efek masalah Timur Tengah, tentu dampak terhadap wisatawan mancanegara itu pasti ada,” ujar Yusran, Senin (16/3/2026). (red)

Baca Berita menarik lainnya dari Batakpost.com di GOOGLE NEW

Exit mobile version