Berita UtamaMartabe Gold Mine

Peneliti Lingkungan Hidup USU: PTAR Perusahaan Pertama di Sumut Lakukan Konservasi Hutan Mangrove

498
×

Peneliti Lingkungan Hidup USU: PTAR Perusahaan Pertama di Sumut Lakukan Konservasi Hutan Mangrove

Sebarkan artikel ini
Peneliti lingkungan hidup dari Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, Ph.D, saat hadir pada acara lanjutan penanaman 60 ribu bibit mangrove dan 50 ribu bibit kerang dan kepiting di Konservasi Hutan Mangrove PTAR yang ada di Tapteng. (Batakpost.com/Jasgul)
Advertisement
Example 300x600
Advertisement

Tapteng, 8/6 (Batakpost.com)- Peneliti lingkungan hidup dari Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, Ph.D, mengatakan, PT Agincourt Resources (PTAR) adalah perusahaan pertama di Sumatera Utara yang melakukan konservasi hutan mangrove. Tentu hal ini perlu untuk ditiru oleh perusahaan-perusahaan yang lain, termasuk pemerintah harus ikut mendorongnya.

Hal itu dikatakan Onrizal menjawab batakpost.com di sela-sela kegiatan aksi lanjutan tanam 60 ribu bibit mangrove dan tebar 50 ribu bibit kerang dan kepiting di Konservasi Hutan Mangrove PTAR yang berada di Kelurahan Kalangan Indah dan Desa Aek Sitio-tio, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada Senin (3/6/2024) lalu.

“Baru PTAR perusahaan yang pertama sekali di Sumatera Utara yang melakukan koservasi hutan mangrove, meskipun lahan itu adalah status penggunaan,” ujarnya.

Menurutnya, apa yang sudah dilakukan PTAR ini perlu untuk diikuti perusahaan-perusahaan yang lain, karena mangrove ini adalah kunci pencapaian penurunan emisi. Dan Indonesia punya peran penting dalam hal itu, karena 1/5 mangrove dunia itu ada di Indonesia atau lebih kurang 25 persen. Sedangkan 35 persen lagi ada di Asean.

“Artinya, betapa Indonesia itu sangat penting untuk penurunan mitigasi perubahan iklim global, karena hutan mangrove ini mampu 10 kali lipat menyimpan karbon dibanding hutan biasa dengan luasan yang sama,” jelasnya.

Selain untuk penurunan mitigasi iklim, Onrizal juga menegaskan, bahwa mangrove juga menjadi lumbung ikan bagi para nelayan, karena ikan-ikan ada jika 2/3 ada kawasan mangrove-nya, termasuk itu udang, kepiting dan biota laut lainnya. “Ini adalah hasil penelitian yang sudah dilakukan. Artinya, ikan, udang, kepiting dan sejenisnya bergantung kepada mangrove,” jelasnya.

Lantas kenapa di Sumatera Utara tidak begitu kelihatan gebrakan untuk menanam mangrove ini? Menurut Onrizal diperlukan kesadaran dan penyampaian informasi. Dan salah satu tugas dari media ikut menyampaikan informasi itu, agar masyarakat luas menyadari akan manfaat dari mangrove itu sendiri.

Selanjutnya Baca: Memang…

banner 325x300