Martabe Gold Mine

Agincourt Resources Tutup Rangkaian Operasi Katarak Gratis, 827 Mata Buta Katarak Berhasil Disembuhka

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi (berjas hitam) menyaksikan penutupan rangkaian operasi katarak gratis yang diadakan PT Agincourt Resources di Rumah Sakit Khusus Mata Mencirim 77, Medan, pada Kamis (24/11/2022). Ia mengapresiasi operasi katarak gratis tersebut karena telah berhasil melakukan operasi katarak terhadap 827 penerima manfaat dari berbagai wilayah di Sumatra Utara. (Dok: PTAR).

Pulihkan Mata Anak Penderita Katarak

Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, menegaskan bahwa operasi katarak yang diadakan PTAR kepada warga pra-sejahtera penting dilakukan untuk menekan prevalensi buta akibat katarak yang cukup tinggi di Sumatra Utara.

IKLAN
IKLAN

Mengacu pada hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RABB) tahun 2014-2016 saja, prevalensi kebutaan akibat katarak di Indonesia mencapai 1,9%, dengan sekitar 90% gangguan penglihatan terdapat di wilayah penduduk berpenghasilan rendah. Di Sumatra Utara saja, nyaris 80% kebutaan pada penduduk usia 50 tahun ke atas disebabkan katarak yang tidak dioperasi, yang menurut data Kementerian Kesehatan, sebagian warga Sumatra Utara tidak menyembuhkan katarak yang dideritanya karena alasan biaya.

“Kepedulian PTAR terbukti membawa perubahan langsung bagi kehidupan masyarakat yang hasilnya dapat dirasakan seumur hidup. Sejak 2011 hingga saat ini, operasi katarak yang digelar PTAR telah menyembuhkan 8.945 mata katarak. Khusus tahun ini saja, sebanyak 827 mata dioperasi, sekitar 75% di antaranya berasal dari Tapanuli Selatan,” ucap Katarina.

BACA JUGA: Dukung Pelestarian Lingkungan Berkelanjutan, PTAR Gelar Martabe Innovation Award (MIA) 2022

Penerima manfaat yang menjalani operasi katarak pada tahun 2022 berasal dari berbagai kabupaten/kota, seperti Padangsidimpuan, Mandailing Natal, Kepulauan Nias, Kota Medan, Deli Serdang, dan Langkat. Sebanyak 20 pasien yang berdomisili di Tapanuli Selatan dengan kondisi khusus dibawa ke RS Mencirim 77 Medan untuk dioperasi.

“Pasien yang didatangkan ke Medan dengan disertai pendamping masing-masing tidak mengeluarkan dana sepeser pun, karena seluruh biaya transportasi dan akomodasi kami tanggung. Pasien yang didatangkan ke Medan ini salah satunya seorang anak berusia 14 bulan yang menderita katarak sejak lahir. Visi kami jelas, yaitu ingin memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh penerima manfaat,” tandas Katarina.

Presiden Direktur PT Agincourt Resources Muliady Sutio menyerahkan bola kepada penerima manfaat operasi katarak gratis, Alfandi Wijaya (11 tahun), warga Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, yang datang ke Medan didampingi ibundanya, Rohana. Empat anak-anak dari 827 penerima manfaat menjalani operasi katarak gratis yang digelar Agincourt Resources, dengan pasien termuda berusia 14 bulan. (Dok: PTAR)

Seorang penerima manfaat berusia 14 bulan, Mutiara Nur Olivia, menjadi pasien termuda di rangkaian operasi katarak gratis 2022. Ibunda Mutiara, Epaliani, mengaku sangat bersyukur atas operasi katarak gratis yang diterima anaknya. Dari rumahnya di Muara Batangtoru, Tapanuli Selatan, ia bersama suami mengantar anaknya yang menderita katarak pada kedua matanya itu untuk menjalani operasi katarak di RS Mencirim 77 Medan.

“Saya dan suami sangat berharap agar Mutiara bisa melihat seperti teman-temannya yang lain. Benar-benar kami sangat terbantu dengan adanya operasi katarak gratis ini,” ujar Epaliani.

Epaliani dan suaminya, Pangihutan, awalnya sudah mengumpulkan uang untuk membawa Mutiara dioperasi. Uang tersebut berasal dari penghasilan Pangihutan sebagai buruh di perkebunan sawit. Dengan mengikuti operasi katarak gratis PTAR, dana yang sudah terkumpul itu akan dialihkan untuk membiayai pendidikan Mutiara kelak.

BACA JUGA: Meskipun Pandemi PTAR Tetap Komit Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Selain Mutiara, Alfandi Wijaya yang berusia 11 tahun, warga Langkat, juga menjadi penerima manfaat operasi katarak gratis yang digelar PTAR. Alfandi diketahui menderita katarak saat usianya 4 bulan. Ia kerap menerima cibiran dari teman-temannya karena satu matanya katarak, apalagi ia tunarungu dan sulit berbicara.

“Saya ingin sekali Alfandi bisa melihat jelas, sehingga bisa belajar dan bermain sepakbola seperti anak-anak lainnya. Tetapi saya tidak punya biaya untuk operasi. Untunglah saya dengar Tambang Emas Martabe mengadakan operasi katarak gratis, jadi saya daftarkan Alfandi,” ucap ibunda Alfandi, Rohana.

Bertahun-tahun sudah Rohana menanti mata Alfandi normal melihat, tetapi ia tak berdaya karena terbatasnya biaya. Bebannya kian berat setelah suaminya meninggal dunia setahun lalu sehingga harus bekerja membuka toko kelontong demi menghidupi Alfandi dan tiga anak lainnya. (ril)

 

Exit mobile version