GAMKI Toba Gelar Marsirarion Bersama  Nestor Rico Tambun

Toba, 20/7 (Batakpost.com)- Dewan pengurus Cabang (DPC) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Toba menggelar acara marsirarion (Bincang Ringan) bersama Jurnalis sekaligus penulis senior Nestor Rico Tambun, (65), di Gedung Kaderisasi Taman Gurgur Tampahan, Kab.Toba, Jumat (17/6).

Ketua DPC GAMKI Toba, Mekar Sinurat, SH,
dalam sambutannya mengatakan, kesempatan marsirarion bersama Nestor Rico Tambun menjadi salah satu wadah penguatan kapasitas organisasi khususnya di bidang pemahan nilai-nilai budaya Batak dan korelasinya dengan kekristenan masa kini.

Dalam kesempatan itu, Nestor membagikan pengalamannya sebagai orang Batak yang tinggal di perantauan di tengah-tengah warga non kristen dan miskin, yang pada umumnya menggantungkan hidupnya dari memulung sampah.

Rasa empati yang tinggi menggugah hati istrinya untuk mengajari anak-anak tak mampu itu belajar Calistung (Baca, tulis dan hitung).

BACA JUGA: Mantap! PLN Terangi Beberapa Dusun di Tobasa

Tak hanya itu, bermodal hasil menulis di beberapa media, bersama istrinya mereka menyekolahkan 7 orang anak tak mampu di salah satu sekolah muslim tak jauh dari tempat mereka tinggal. Selain membayar uang sekolah, Nestor dan istri juga memenuhi seluruh kebutuhan belajar anak-anak tersebut.

“Hidup itu yang penting adalah bagaimana kita bisa berdampak bagi sesama tanpa melihat apa agama, suku dan budayanya,” ujar Nestor.

Diakuinya, tantangan berbuat baik sesuai ajaran kristus tidaklah mudah, niat baik juga kerap disalahartikan orang yang tidak bertanggungjawab.

“Bahkan saat itu kita dituduh melakukan Kristenisasi karena kita mengajari anak-anak itu belajar gratis. Meski demikian istri saya tidak patah semangat, dia dengan setia mengajari anak-anak itu dengan iklas dan sukarela. Bagi kami, menjadi Kristen itu hanya 5 huruf, yaitu ‘Kasih’, ” tutur Nestor.

Kekristenan masa kini dinilai Nestor kerap kehilangan arti yang sesungguhnya. Pelayan Gereja banyak yang tidak menjalankan tugasnya sebagaimana layaknya pelayan Tuhan.

“Ibaratnya, pelayan Gereja itu adalah nelayan. Apakah nelayan masih pergi ke laut menjala ikan atau hanya duduk di tepi pantai menunggu ikan datang,?” kritik Nestor.

Turut hadir Penulis dan penggiat budaya Batak, M.Tansiswo Siagian,serta komunitas penggiat sanggar seni dan budaya Kabupaten Toba.

Marsirarion semakin hangat saat sesi tanya jawab yang dari awal dimoderatori Grace Dolok Saribu tiba. Nestor berharap, usai acara ini, GAMKI sebagai organisasi pemuda Kristen harus mampu menggarami sekitarnya dan harus mengimaninya.

Diakhir acara, turut disuguhi pertunjukkan seni bela diri Mossak Batak oleh Noel Situmorang dari Sanggar Seni Gubuk Kreasi Sibolang Toba. (ril)