oleh

14 Tahun Wafatnya Soeharto, Presiden Penganut Filosofi Jawa

Jakarta, 27/1 (Batakpost.com)- Hari ini 14 tahun yang lalu, Presiden kedua RI Soeharto meninggal dunia. Selama hidupnya, Soeharto dikenal sebagai salah satu pemimpin yang begitu teguh memegang nilai-nilai filosofi Jawa.

Sosok Soeharto kembali terkenang setelah putri sulungnya, Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto), mencuit soal 14 tahun kepergian ayahnya. Tutut meminta doa untuk ayahnya tersebut.

BACA JUGA: Deklarasi Bersama Pemulihan Ekonomi Nasional

“Assalaamualaikum Wr. Wb. Sahabat, tanggal 27 Januari 2022 ini tepat 14 tahun, Bapak, Presiden Soeharto, wafat. Mohon doanya semoga diampuni kesalahan, diterima amal baiknya, diberi tempat terbaik di sisi-Nya,” tulis Tutut melalui akun Twitter @TututSoeharto49, Kamis (27/1/2022).

Tak lupa, Tutut juga menyertakan video bincang-bincang Soeharto dengan anak-anak di Pekan Tabungan tahun 1995. Dalam video tersebut, Soeharto berbicara tentang pembentukan watak.

Soeharto dan Filsofi Jawa

Omong-omong soal pembentukan watak, sosok Soeharto tak terlepas dari ajaran filosofi Jawa. Filosofi Jawa termasuk nilai-nilai yang membentuk wataknya hingga menjadi pemimpin nomor satu di Indonesia kala itu.

Soeharto lahir 8 Juni 1921. Ia berasl dari keluarga kurang mampu di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, sebelah barat kota Yogyakarta. Di masa inilah Soeharto sempat mengecap pahitnya hidup.

Meskipun begitu, ayah Soeharto, Kertosudiro percaya bahwa hidup anaknya akan lebih baik suatu hari kelak. Sebab nama ‘Soe’ yang artinya lebih baik dan ‘Harto’ yang artinya kekayaan, adalah doa orang tuanya.

Ketika usianya beranjak dewasa, Soeharto kemudian dititipkan kepada pamannya di Wuryantoro. Di sana ia belajar bertani.

BACA JUGA: Agincourt Resources Raih 4 (Empat) Penghargaan di Tingkat Nasional & Internasional

Selain bertani, di rumah pamannya ini juga Soeharto memupuk kecintaannya pada filosofi hidup orang Jawa. Salah satu ajaran yang terus ia amalkan ialah soal tiga ajaran tentang tiga ‘aja’. Tiga ‘aja’ itu aja kagetan, aja gumunan dan aja dumeh (jangan kagetan, jangan heran dan jangan sombong).

Selain itu, Soeharto juga memegang teguh ajaran hormat kalawan Gusti, guru, ratu lan wong atuwo karo (hormat kepada Tuhan, guru, pemerintah dan kedua orang tua).

Dalam otobiografinya, Soeharto mengatakan bahwa pengalamannya selama di Wuyantoro ini sangat berpengaruh para pembentukan karakternya. Baik sebagai pemimpin negara maupun sebagai kepala rumah tangga. Bahkan, Soeharto bisa menjadi Presiden Indonesia selama 32 tahun.

Tahun 2008, kondisi kesehatan Soeharto terus menurun. Soeharto meninggal pada 27 Januari 2008. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman Astana Giribangun yang terletak di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah. (dtc)

News Feed