oleh

Jangan Terlena, Demam Berdarah Dangue Masih Mengintai

Oleh: Dessy Imelda Nirmasari Siregar

Demam Berdarah Dengue (DBD) termasuk salah satu penyakit menular. Aedes aegypti ini merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah.

Selain dengue, Aedes aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya. Penyakit ini masih menjadi masalah besar di sebagian negara berkembang.

Di Indonesia DBD merupakan salah satu kasus emergency disease yang memiliki insiden yang meningkat dari tahun ke tahun.

Demikian juga di setiap provinsi di Indonesia hampir semua wilayah memiliki kasus DBD, termasuk Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan data Kemenkes RI 2018, tahun 2017, Sumatera Utara merupakan salah satu Provinsi yang menempati angka kesakitan DBD terbanyak ke 4. Sehingga dibutuhkan upaya pengendalian penyebaran DBD untuk menanggulangi penyebaran DBD.

Sesuai dengan geografisnya Provinsi Sumatera Utara berada di bagian Barat Indonesia yang berbatasan dengan daerah perairan dan laut, seperti, Aceh, Riau, Sumatera Barat dan negara tetangga. Provinsi Sumatera Utara memiliki luas wilayah 72.981,23 km yang terdiri dari 33 Kabupaten/Kota yang terbagi menjadi 8 Kota dan 25 Kabupaten, dengan jumlah kecamatan 440, serta 6.112 desa/kelurahan.

Provinsi Sumatera Utara juga beriklim tropis dengan kisaran suhu antara 150C-330C. Mempunyai 2 musim yakni kemarau pada bulan Januari s/d Juli, dan musim hujan pada bulan Agustus s/d Desember, serta di antara kedua musim tersebut diselingi musim Pancaroba.

Perubahan iklim di Sumatera Utara menyebabkan perubahan curah hujan, suhu, kelembapan, arah udara, sehingga berefek terhadap ekosistem daratan dan lautan serta berpengaruh pada kesehatan terutama terhadap perkembangbiakan vektor penyakit.

Tingkat penyebaran virus mengalami kenaikan pada saat peralihan musim, yang biasanya ditandai dengan curah dan suhu udara yang sangat tinggi. Faktor perilaku dan partisipasi masyarakat Sumatera Utara yang masih kurang dalam kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), serta faktor pertambahan jumlah penduduk, dan faktor peningkatan mobilitas penduduk yang tinggi menyebabkan penyebaran virus DBD semakin mudah dan semakin luas.

Selain itu, penggunaan barang yang non-biodegradable seperti plastik yang sangat tinggi, berpotensi besar sebagai penampung air hujan yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan vector.

Pada saat curah hujan tinggi, perkembangan vector Aedes aegypti meningkat. Peningkatan kesadaran masyarakat akan bahayanya DBD, dan peningkatan kewaspadaan dini terhadap DBD sangat berpengaruh dalam menanggulangi penyebaran DBD di Provinsi Sumatera Utara.

Menurut Depkes RI, upaya pemberantasan demam berdarah dapat dibagi dalam 3 kegiatan,  yaitu:

  1. Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor.
  2. Diagnosis dini dan pengobatan dini dan.
  3. Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD.

Ada pun upaya penanggulangan atau pengendalian penyebaran DBD ialah:

  1. Melakukan penyuluhan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi DBD. Peningkatan peran masyarakat dalam pencegahan DBD dengan melaksanakan kegiatan 3M (Mengubur, Menguras, Menutup) untuk menghindari gigitan nyamuk di lingkungan tempat tinggal.
  2. Pengendalian vector dengan pemberantasan jentik nyamuk. Melakukan kegiatan rutin Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dan melakukan pemberantasan nyamuk dewasa dengan melakukan fogging focus sebelum musim penularan.
  3. Melakukan monitoring dan evaluasi program pengendalian DBD di seluruh wilayah/kota oleh Kementrian Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
  4. Pelatihan Tatalaksana kasus DBD di RS, bagi petugas medis di Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta Daerah Endemis Sumut. Melakukan pertemuan konsultasi/supervisi Tim Pokjanal DBD Pusat. (***)

Penulis adalah mahasiswi di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, Fakultas Bioteknologi Prodi Biologi.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed