Accenture Technology Vision 2020 – 5 Tren Utama Wajib Dipertimbangkan Perusahaan

oleh

Dari Bentrokan Teknologi (Tech-Clash) hingga Kepercayaan (Trust), Fokusnya Harus Tetap Pada Manusia

JAKARTA, Indonesia, 27 Februari 2020 /PRNewswire/ — Untuk bersaing dan mencapai kesuksesan dalam dunia yang serba digital, perusahaan-perusahaan perlu menetapkan fokus baru untuk mengimbangi "nilai" — yang selalu dikejar dalam persaingan dan pencapaian kesuksesan — dengan "nilai-nilai" sesuai  harapan pelanggan dan karyawan mereka, menurut Accenture Technology Vision 2020. Laporan tahunan Accenture (NYSE: ACN) edisi ke-20 ini memprediksi tren teknologi utama yang akan menata ulang bisnis-bisnis selama tiga tahun ke depan.

Menurut laporan "Kita, Manusia di Era Pasca Digital: Dapatkah perusahaan Anda bertahan melewati ‘bentrokan teknologi (tech-clash)?" ,meskipun teknologi semakin melekat ke dalam kehidupan manusia, upaya organisasi-organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat masih bisa menemui kegagalan. Perlu adanya pola pikir dan pendekatan yang baru pada saat teknologi digital ada di mana-mana dan perusahaan-perusahaan memasuki dekade pada saat mereka harus memenuhi janji-janji digitalnya.

Walaupun beberapa orang menyebut lingkungan saat ini sebagai "tech-lash," atau serangan balik terhadap teknologi, istilah itu gagal untuk mengakui bagaimana masyarakat menggunakan dan mengambil manfaat dari teknologi. Seharusnya penyebutannya menjadi tech-clash yang merupakan bentrokan antara model bisnis dan teknologi yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.

Dari survei yang dilakukan Accenture untuk laporan Technology Vision terhadap lebih dari 6.000 eksekutif bisnis dan TI di seluruh dunia, 83% mengakui bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman manusia. "Bahkan di Indonesia, 97% eksekutif setuju akan pentingnya hubungan tersebut," kata Indra Permana, Technology Delivery Lead, Accenture di Indonesia.

"Karena terpesona oleh janji teknologi, banyak organisasi menciptakan produk dan layanan digital semata-mata karena mereka bisa melakukannya, tanpa sepenuhnya mempertimbangkan konsekuensi manusia, organisasi, dan sosial," kata Indra. "Sekarang ini kita melihat bentrokan teknologi yang disebabkan oleh harapan konsumen, potensi teknologi, dan ambisi bisnis – dan sekarang kita berada pada titik dimana perubahan kepemimpinan menjadi penting. Banyak perusahaan harus mengubah pola pikirnya dari ‘hanya karena’ menjadi ‘kita percaya karena’dengan meninjau kembali model bisnis dan teknologi fundamental dan menciptakan basis persaingan dan pertumbuhan baru."

Menurut laporan  Technology Vision, dilanjutkannya penggunaan model yang ada saat ini – tanpa memikirkan perlunya inovasi – tidak hanya berisiko mengganggu pelanggan atau memutus keterlibatan karyawan, tetapi juga bisa secara permanen membatasi potensi pembaharuan dan pertumbuhan di masa depan. Namun demikian, tech-clash adalah tantangan yang bisa diatasi. Technology Vision mengidentifikasi lima tren utama yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan selama tiga tahun ke depan untuk meredakan bentrokan teknologi dan mewujudkan bentuk-bentuk nilai bisnis baru yang sebagian didorong oleh hubungan yang kuat dan saling percaya dengan para pemangku kepentingan:

  • Pentingnya Personalisasi Pengalaman. Organisasi-organisasi perlu merancang personalisasi pengalaman yang memperkuat kegiatan dan pilihan seseorang. Hal ini dapat mengubah para pengguna yang pasif menjadi aktif dengan transformasi pengalaman-pengalaman satu arah, yang dapat membuat orang merasa tidak memiliki kendali atas pilihan yang ada dan tidak terlibat menjadi sebuah kolaborasi yang sebenarnya. Lima dari enam eksekutif bisnis dan TI yang disurvei (85%), di Indonesia (92%), percaya bahwa kesuksesan persaingan dalam dekade baru ini menuntut organisasi-organisasi untuk meningkatkan hubungannya dengan para pelanggan, menjadikan mereka sebagai mitra.
  • AI dan Saya. Kecerdasan Buatan (AI) harus memberikan kontribusi pada cara manusia melakukan pekerjaan mereka, bukan hanya menjadi pendukung otomatisasi. Sejalan dengan tumbuhnya kemampuan AI, perusahaan-perusahaan harus memikirkan kembali pekerjaan yang mereka lakukan untuk menjadikan AI sebagai bagian generatif dari proses kerja tersebut, dengan kepercayaan dan transparansi sebagai intinya. Saat ini, hanya 37% organisasi, 47% di Indonesia, yang melaporkan penggunaan desain inklusif atau prinsip desain yang berpusat pada manusia untuk mendukung kolaborasi antara manusia dan mesin.
  • Dilema Kecerdasan. Asumsi-asumsi tentang siapa yang merupakan pemilik dari suatu produk sedang ditantang di dunia yang memasuki situasi "stagnan dalam tahap beta." Sewaktu perusahaan-perusahaan berusaha memperkenalkan generasi produk baru yang digerakkan oleh pengalaman digital, penanganan untuk hal baru ini menjadi sangat penting dalam mendukung kesuksesan. Hampir tiga perempat (74%) eksekutif, sedang di Indonesia 82%, melaporkan bahwa produk dan layanan yang terhubung dengan organisasi mereka akan memiliki pembaharuan dalam jumlah yang lebih banyak atau jauh lebih banyak selama tiga tahun ke depan.
  • Robot di Alam Terbuka. Robotika tidak lagi terkurung di dalam gudang atau pabrik. Dengan 5G yang siap untuk secara signifikan mempercepat pertumbuhan tren, setiap perusahaan harus memikirkan kembali masa depannya melalui lensa robotika. Pandangan eksekutif tentang bagaimana karyawan mereka akan merangkul robotika terpecah: 45% mengatakan bahwa karyawan mereka akan merasa tertantang dalam mencari cara untuk bekerja sama dengan robot, sementara 55% meyakini bahwa karyawan mereka akan dengan mudah menemukan cara untuk bekerja sama dengan robot. Di Indonesia berbeda, karena (82%) yakin bahwa industri mereka membutuhkan robot di alam terbuka.
  • DNA Inovasi. Perusahaan-perusahaan memiliki akses ke sejumlah besar teknologi disruptif yang belum pernah ada sebelumnya, seperti buku besar terdistribusi (distributed ledger), AI, extended reality, dan komputasi kuantum. Untuk mengelola semuanya, organisasi-organisasi perlu membuat DNA inovasi unik mereka sendiri sambil berkembang dengan kecepatan yang dituntut oleh pasar saat ini. Tiga perempat (76%), di Indonesia 83%, eksekutif percaya bahwa kebutuhan untuk inovasi belum pernah setinggi ini. Oleh karena itu, untuk melakukannya dengan "benar", dibutuhkan cara-cara baru untuk berinovasi dengan mitra ekosistem dan organisasi dari pihak ketiga.

Disrupsi (disrupter) telah mampu untuk mengatasi kesenjangan antara harapan manusia dan standar yang ada saat ini. Sebagai contoh, perusahaan startup Inrupt sedang mengerjakan arsitektur penghubung data yang disebut Solid, yang dirancang untuk memberikan kendali yang lebih besar kepada manusia atas informasi pribadi mereka dengan memungkinkan mereka untuk menyimpan dan menggunakan data mereka di seluruh web melalui beberapa "pod". Manusia dapat memutuskan di mana pod mereka akan di-host dan menentukan perusahaan atau mesin mana yang dapat mengaksesnya serta mencabut atau menghapus informasi mereka kapan saja. Semua ini dirancang untuk mengatalisasi visi awal Tim Berners-Lee, salah satu pendiri Inrupt, untuk memiliki web yang berisi peluang bagi semua orang. Inilah salah satu jenis pendekatan yang berpusat pada manusia yang akan menentukan siapa yang akan menjadi organisasi terkemuka di masa depan.

Selama 20 tahun, Accenture telah melihat seluruh lanskap perusahaan secara sistematis untuk mengidentifikasi kemunculan tren-tren teknologi yang memiliki potensi terbesar untuk mengganggu bisnis dan industri. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai laporan tahun ini, kunjungi www.accenture.com/technologyvision atau ikuti percakapan di Twitter dengan tagar #TechVision2020.

Mengenai Metodologi ini

Untuk laporan tahun 2020, proses penelitian ini mencakup mengumpulkan masukan dari Dewan Penasihat Eksternal Technology Vision, sebuah kelompok yang terdiri atas lebih dari dua puluh individu yang berpengalaman dari sektor publik dan swasta, akademisi, perusahaan modal ventura, dan perusahaan wirausaha. Selainitu, tim Technology Vision juga mengadakan wawancara dengan para tokoh teknologi dan pakar industri, serta dengan hampir 100 pemimpin di Accenture sendiri. Sejalan dengan itu, Accenture Research melakukan survei online global atas 6.074 bisnis dan eksekutif TI seperti tahun-tahun sebelumnya pada perusahaan-perusahaan dari 25 negara – termasuk Indonesia, untuk menangkap wawasan tentang penerapan teknologi berkembang. Survei ini membantu mengidentifikasi isu-isu utama serta prioritas penerapan dan investasi teknologi. Respondennya adalah eksekutif dan direktur tingkat C di perusahaan-perusahaan dari 25 negara – termasuk Indonesia dan 21 industri yang berbeda, dengan pendapatan tahunan lebih dari US$5 miliar. Tahun ini, penelitian tersebut juga mencakup survei konsumen Accenture terhadap 2.000 orang di Cina, India, Inggris, dan Amerika Serikat.

Mengenai Accenture

Accenture adalah perusahaan layanan profesional global terkemuka, yang menyediakan berbagai layanan dan solusi strategi, konsultasi, digital, teknologi dan operasi bisnis. Dengan menggabungkan pengalaman dan keterampilan khusus di lebih dari 40 industri dan semua fungsi bisnis – yang didukung oleh jaringan penyampaian terbesar di dunia – Accenture bekerja di titik pertemuan bisnis dan teknologi untuk membantu para klien meningkatkan kinerja mereka dan menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan. Dengan lebih dari 505.000 personel yang melayani klien-klien di lebih dari 120 negara, Accenture menggerakkan inovasi untuk meningkatkan cara dunia hidup dan bekerja. Kunjungi situs web kami di www.accenture.com.

Kontak:

Accenture in Indonesia
Nia Sarinastiti
Marketing & Communication Director
Wisma 46 – Kota BNI – Lantai 18
Jl. Jend. Sudirman Kav.1, Jakarta 10220
Mobile: +62 816 979 631
Email:
nia.sarinastiti@accenture.com

Hak Cipta © Accenture 2020. Hak cipta dilindungi. Accenture dan logonya merupakan merek dagang Accenture.

Related Links :

http://www.accenture.com

Source: PRN Asia