Membangun Samosir dengan Budaya “Marsiadapari”

oleh
Swangro Marbun Lumbanbatu, ST, M.Si (yang dilingkari) saat turun ke desa-desa untuk berdiskusi dengan masyarakat kampung halamannya, di Kabupaten Samosir. (Batakpost.com/Ist)

Samosir, 26/11 (Batakpost.com)- Pemimpin itu harus dinamis dan kontekstual, peka dengan sekeliling serta tidak anti dengan sekitar. Itulah pandangan singkat Swangro Marbun Lumbanbatu, ST, M.Si, putra kelahiran Samosir dari Desa Baneara.

Pandangan itu jugalah yang mendasari Swangro turun langsung ke masyarakat yang ada di kampung halamannya seperti ke Desa Pintu Sona, Kelurahan Siogung-ogung Pangururan, Desa Sibonor Ompuratus, Desa Marbun, Desa Sigaol Palipi, Desa Bonan Dolok Sianjur Mula-mula, dan desa lain yang sudah dikunjunginya.

Ada pun tujuan istri Lied Apriani Sitorus, Skep.Ners ini turun dan dekat kepada masyarakat, untuk menerima dan menampung langsung masukan-masukan dari masyarakat di berbagai sektor, seperti sektor pertanian, infrastruktur, pariwisata dan perekonomian.

Kepada warga yang ditemuinya, jebolan S2 dari Universitas Sumatera Utara (USU) itu menerangkan, bahwa pembangunan merata sebagai alat untuk pemersatu daerah. Dan untuk mewujudkan persatuan itu, budaya Batak “Marsiadapari” harus digaungkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bergotong-royong menjadi solusi bagi pembangunan di Kabupaten Samosir secara adil dan mereka.

Dosen ISTP Darma Agung ini menyebutkan, keluhan dari masyarakat Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula-mula Samosir tentang akses jalan yang belum bisa dilewati kendaraan roda empat dan masih mengandalkan roda dua dan kapal kecil dari desa ke desa.

Dan jika ditilik dari keberadaan Kabupaten Samosir dengan komuditi unggulan di sektor pertanian, mewajibkan konsep pembangunan infrastruktur yang harus diutamakan. Karena sesuai data dari BPS Samosir, tahun 2018 masyarakat Samosir penghasilannya 50 persen masih dari sektor pertanian.

Swangro Marbun Lumbanbatu, ST, M.Si bersama dengan Tim Kaum Milenial saat menyapa para warga Samosir dengan berjumla langsung dengan masyarakat. (Batakpost.com/Ist)

“Yang saya lihat sesuai fakta di lapangan, masih banyak akses atau infrastruktur menuju desa belum dibangun merata, sehingga masyarakat mengharapkan pemerataan itu,” kata Ketua Umum DPP Gerakan Muda/i Parsadaan Toga Marbun Indonesia (GMPTMI) itu.

Sedangkan di sektor Pariwisata lanjut Swangro yang juga pernah menduduki posisi sebagai Korwil I PP GMKI, tingkat kunjungan wisata ke Samosir tahun 2018 sekitar 20 persen sesuai dengan data dari BPS Samosir. Itu artinya minat wisatawan untuk datang ke Samosir sudah mulai tumbuh. Seiring dengan itu pertumbuhan UMKM di Samosir harus ditingkatkan, mengingat banyak para seniman dan perajin di Kabupaten Samosir, termasuk para Panderes dan Parlapo Tuak yang butuh sentuhan.

“Keberadaan para peracik atau panderes tuak ini butuh perhatian dan dikembangkan melalui UMKM. Jangan langsung menilai dari sisi negatifnya terhadap tuak, karena banyak juga hal yang positif dan mafaat dari minuman ciri khas masyarakat Batak itu itu,” ujar pria kelahiran tahun 1988 itu.

Untuk menjawab semua kondisi itu, dibutuhkan kehadiran Pemerintah untuk lebih dekat dengan masyarakat, agar dapat melihat dan menyentuh kondisi real di lapangan.

“Inilah tugas kami sebagai kaum milenial yang mampu mencari solusi atas berbagai hal yang dihadapi masyarakat, khususnya masyarakat Kabupaten Samosir. Karena para orangtua yang kami temui dari pintu ke pintu masih sanggup memberi motivasi kepada kami, apalagi kami yang masih muda dan energik ini, pasti bergerak cepat dan tepat untuk berkontribusi bagi Kabupaten Samosir,” tukasnya.

Kegiatan Swangro Marbun Lumbanbatu yang menamatkan Sekolah Dasarnya dari SD Negeri Baneara Partungko Naginjang Kecamatan Harian, Samosir, turut didampingi rekannya dari Tim Milenial, seperti Ery Manihuruk, Wulan Nainggolan, Eddis Silalahi, Jhodamay, Anugrah, Goklas, dan Joko. (RED)