Mendesain Proses Pembelajaran di Era Digital

oleh
Kepala Sekolah SMPN 2 Pandan Nauli-Tapteng NUR EKVAN SANTOSO. (Batakpost.com/Ist)

Oleh : NUR EKVAN SANTOSO

Kepsek SMPN 2 Pandan Nauli-Tapteng

Gelombang peradapan keempat yang saat ini dikenal dengan era 4.0 memaksa kita  menyesuaikan seluruh kerangka sendi dan perangkat kerja pada setiap segmen kehidupan termasuk pengelolaan pengajaran di sekolah.

Pesatnya kemajuan teknologi digital di masa sekarang memungkinkan anak-anak kita mendapatkan segala macam informasi secara mudah. Dan menggunakan gadget untuk segala keperluan, baik dalam urusan berbelanja, interaksi, hingga belajar.

Besar kemungkinan dengan tanpa adanya ‘rambu-rambu’ dari para pendidik, mereka akan terjerumus ke hal-hal negatif efek dari derasnya arus informasi yang tidak terbendung. Ibarat dua mata pisau, teknologi memiliki sisi negatif dan positif. Perubahan yang sangat cepat, menuntut setiap pendidik untuk mengupdate literasi, dan model pendidikan agar disesuaikan kondisi sekarang.

Siswa itu pintar dan lebih update dibandingkan guru-gurunya. Informasi aktual dapat didapat dengan mudah. Begitu pun aplikasi-aplikasi dan fitur di dalam gadget mereka. Tugas pendidik adalah memberikan pembelajaran agar mereka dapat lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi dan dapat mengambil keuntungan yang positif melalui kemudahan informasi via internet.

Di era revolusi industri 4.0 saat ini, manusia telah menerapkan teknologi digital dalam berinteraksi maupun bertransaksi. Berbagai platform berbasis digital inilah yang akan menjadi masa depan para generasi muda. Pendidik harus tahu seberapa jauh memahami perubahan era digital yang tentunya akan berdampak pada proses pendidikan generasi ini.

Guna memberikan pembelajaran di era digital saat diperlukan prinsip-prinsip dasar, yaitu memahami perubahan lingkungan yang cepat, memahami perangkat teknologinya, kemampuan literasi baru berupa literasi data, yaitu kemampuan untuk membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi (big data) di era digital, literasi pendidikan mencakup memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (coding, artifical intelligence, dan engineering principles) dan literasi manusia (humanis, komunikasi dan desain).

Kemudian para pendidik mampu memahami karakteristik siswa, apa yang menjadi minat mereka, sehingga kita bisa merancang materi apa yang pas buat mereka. Terakhir adalah merancang pembelajaran fokus partisipasi aktif siswa agar dapat melihat kompetensi peserta didik.Seiring dengan berkembangnya teknologi, paradigma pendidikan mengalami perubahan besar. Keberagaman media pembelajaran dapat diakses dengan mudah melalui internet. Waktu belajar pun tidak terbatas lagi.

Kita dapat belajar hingga akhir hayat tanpa ada batasan waktu, tempat, fasilitas dan usia.Perbedaan yang nyata pendidikan era digital dengan model pendidikan tradisional dapat dilihat dari karakteristik siswanya.

Biasanya, para siswa pengguna teknologi digital (native digital) memiliki karakter: perpindahan antara satu hal dan hal lainnya sangat cepat, menguasai IT (Orientasi Gadged), Multi Tasker, lndividual dan global, sangat terbuka, lebih cepat terjun ke dunia kerja, memiliki mental wirausahawan, dan memiliki jaringan sosial. Namun permasalahan yang mereka hadapi pun lebih kompleks.

Ada tahapan-tahapan dalam merancang pembelajaran di eral digital. Pertama, pendidik harus memahami proses pembelajaran apakah sudah efektif dalam melakukan transfer informasi kepada peserta didik? Apakah metode kita sudah memenuhi syarat dalam mengembangkan individu sehingga memiliki kemampuan untuk bertanya, menganalisis, kemudian menerapkan informasi atau pengetahuan yang didapat. Jika menggunakan pembelajaran digital (e-learning) apakah menjadi cara baru untuk meningkatkan fleksibilitas dan sumber daya yang tersedia melalui internet?

Kedua, cara mengajar pendidik seperti apa? Apakah sudah sesuai dengan kebutuhan para siswa? Kompetensi apa yang dibutuhkan? Dan sumber daya apa saja? Di era tradisional, biasanya para murid hadir di kelas untuk menerima pembelajaran dari guru, kemudian mengerjakan tugas-tugasnya di rumah. Sementara di era sekarang menggunakan metode flipped teaching. Di mana seorang guru di rumah, membuat materi pendidikan berupa video atau presentasi kemudian diupload di internet untuk didownload para siswa.

Kemudian para siswa membahas materi tersebut dan mempersiapkan pertanyaan kepada guru. Di sekolah, guru menyediakan waktu diskusi bagi para murid dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sementara para murid mengajukan pertanyaan pada bagian-bagian yang tidak dimengerti dan berperan aktif dalam diskusi sesama siswa.

Ketiga, membentuk tim pembelajaran yang terdiri dari ahli materi, desainer pembelajaran, tim IT, desainer web dan desainer grafis. Tim ini dibentuk sesuai kebutuhan. Keempat, sumber daya apa saja yang dibutuhkan? Apakah kita membuat konten baru, atau menggunakan sumber daya yang sudah ada dari internet. Apakah kita yang memilih materi, atau memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari, memilih sendiri materi, menganalisa, mengevaluasi dan menerapkan informasi.

Kelima, penguasaan teknologi pembelajaran. Antara lain: sistem manajemen pembelajaran seperti Blackboard, Moodle, Desire2Learn, Canvas. Teknologi rekaman ceramah seperti podcast, Tablet dan perangkat seluler seperti iPad, ponsel, dan aplikasi yang menjalankannya, MOOC dan banyak variannya seperti SPOC dan TOOCs, Media sosial seperti blog, wiki, Google Hangout, Google Documents, dan Twitter.

Keenam, menetapkan tujuan pembelajaran sesuai dengan perencanaan kurikulum, namun pada parkteknya mencakup antara lain pengembangan pengetahuan, pengembangan keterampilan, atau pada pengembangan operasional. Ketujuh, desain struktur pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Penetapan berapa banyak waktu yang harus digunakan siswa setiap minggu untuk belajar online dan penjelasan tentang apa yang harus siswa lakukan dan kapan perlu dilakukan.

Kedelapan, komunikasi. Kehadiran seorang guru baik di ruang kelas, maupun di dunia maya bagi para siswanya dapat mendorong mereka, memantau diskusi secara teratur, dan sesekali melakukan intervensi jika perlu tanpa menghambat diskusi. Kesembilan, evaluasi dari hasil metode pembelajaran. Apakah ada peningkatan atau tidak. Kemudian menemukan inovasi agar perkembangan pembelajaran dapat meraih hasil lebih baik lagi di masa mendatang.

Tantangan para pendidik saat ini adalah bukan menentukan seperti apa platform digital atau e-learning yang akan dirancang, tetapi bagaimana menjaganya agar tetap bisa dilakukan dengan fleksibel, tetap mutakhir (current), mengalir dengan mudah (fluid). Pendidik juga dituntut mampu mendidik siswanya agar menjadi seorang digital native yang memiliki digital wisdom, bijak dalam memanfaatkan teknologi. (**)