Indonesia Manfaatkan The 3rd World Irrigation Forum untuk Percepat Modernisasi Irigasi

oleh

Dengan 7.1 juta hektar luas lahan irigasi, Indonesia menempati urutan ke-6 negara dengan lahan irigasi terluas di dunia. Hasil dari setiap hektarnya harus dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

BALI, Indonesia, 5 September 2019 /PRNewswire/ — The 3rd World Irrigation Forum (WIF) & the 70th International Executive Council Meeting (IECM) saat ini tengah berlangsung di Bali Nusa Dua Convention Center hingga 7 September mendatang. Sebagai tuan rumah, Pemerintah Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), memaksimalkan kesempatan langka ini untuk berbagi pengetahuan tentang inovasi membangun kapasitas irigasi, guna tingkatkan produktivitas pangan nasional.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, menyampaikan pidato dalam the 3rd World Irrigation Forum, Senin 2 September 2019.


Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, menyampaikan pidato dalam the 3rd World Irrigation Forum, Senin 2 September 2019.

"Masalah irigasi dan ketahanan pangan merupakan masalah krusial yang tengah dihadapi, bukan hanya di Indonesia melainkan dunia. Saat ini, tanah pertanian yang teririgasi tengah mengalami penurunan, dari 50 ha/1,000 orang menjadi 42 ha/1,000 orang. Ini kontradiktif dengan jumlah populasi dunia yang terus bertambah," ujar Felix Reinders, Presiden International Commission on Irrigation and Drainage (ICID).

Dari data yang dirilis ICID, potensi sumber daya air yang dapat di akses di Indonesia ada di angka 2,530 km3. Kendati demikian, saat ini hanya 2% atau sekitar 96 m3/kapita/tahun yang dapat dimanfaatkan, dengan 76% digunakan dalam bidang agrikultur.

"Karenanya, kita harus meningkatkan inovasi di sektor ini, karena kebutuhan pangan akan terus berlipat hingga tahun 2050," tambah Felix. 

Di Indonesia, inovasi dilakukan oleh Dirjen SDA dalam bentuk modernisasi irigasi.  "Modernisasi irigasi adalah peningkatan efisiensi penggunaan air dan efektivitas sistem irigasi, tak terbatas teknologi semata. Salah satunya lewat drip irrigation yang saat ini populer diaplikasikan pada hortikultura. Dalam era 4.0, dunia keirigasian juga harus memiliki Command Room untuk mengetahui debit air secara real time," ujar Direktur Jenderal SDA, Hari Suprayogi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Haldimuljono, pun mengamini hal ini. Ke depan, efisiensi harus dapat dinilai dari apa yang dapat dihasilkan tiap tetes air. "Kuncinya adalah produktivitas. Apalagi, tantangan keirigasian dunia telah banyak berubah dalam satu dekade terakhir, yang menuntut perubahan kebijakan dan solusi yang juga cepat. Jika tiga tahun lalu Indonesia berfokus pada manajemen air, saat ini fokusnya menjaga ketahanan air dan pangan dalam lingkungan yang tergradasi," tegas Basuki.

Kontribusi Bendungan untuk Lingkungan yang Berkelanjutan

Dalam rangka meningkatkan ketahanan air, Ditjen SDA tengah menggalakkan pembangunan 65 bendungan. Saat ini, 57 bendungan sedang dibangun, sementara 8 bendungan masih dalam proses tender. Manfaat bendungan tidak hanya untuk ketahanan pangan, melainkan juga pemasok kebutuhan air sehari-hari, penggerak tenaga listrik, serta menjaga daerah aliran sungai (DAS) dari kerusakan.

Sebaga peserta forum, Happy Mulya, Kepala Balai Besar Cimanuk Cisanggarung, mengungkapkan, "Masalah utama daerah aliran sungai (DAS) kritis di Indonesia ialah maraknya kerusakan hutan dan jenis tanaman yang tidak dapat menahan erosi, yang akhirnya menyebabkan sedimentasi di sungai-sungai. Kerusakan inilah yang menyebabkan terganggunya daerah-daerah irigasi, karenanya dibutuhkan juga sinergi yang solid dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, agar masyarakat semakin teredukasi tentang pentingnya menjaga hutan dan lingkungan."

Indonesia memiliki target pembangunan jaringan irigasi baru hingga satu juta hektar, serta merehabilitasi 3 juta hektar lahan irigasi yang sudah ada. Target ini dapat terlaksana jika seluruh masyarakat teredukasi baik untuk menggalakkannya. Seperti diungkapkan Felix Reinders, "Masyarakat, khususnya petani, harus terus teredukasi dengan pengetahuan dan teknologi baru. Karenanya, seluruh lapisan masyarakat perlu saling berbagi wawasan dan pengalaman secara berkala, agar semakin peka dengan teknologi dan ide-ide baru untuk irigasi."

Sementara itu, Bali, selaku tuan rumah forum irigasi internasional, akan berinovasi melahirkan solusi lewat prinsip kehidupannya yang menyatu dengan alam. "Bali mengenal sistem pengolahan irigasi bernama Subak, yang telah dipatenkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Karenanya, ke depan Bali akan berjuang menjaga ketahanan pangan dengan fokus konservasi alam dan menjaga budaya serta perilaku manusia," ujar Tjokorda Oka Arta Ardana Sukawati, Wakil Gubernur Bali.

Media Contact:

Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA)
Sub Bagian Komunikasi Publik 
Gedung Ditjen Sumber Daya Air 
Kementerian PUPR 
Jl. Pattimura 20, Kebayoran Baru 
Jakarta – Indonesia 12110 
Phone: +6221 7398614 
Email: kompusda@pu.go.id atau kompu.sda@gmail.com 

Photo – https://photos.prnasia.com/prnh/20190904/2569814-1?lang=0

Source: PRN Asia