oleh

PE dan M&A Jadi Kunci untuk Memperkuat Perekonomian Indonesia Disaat Perusahaan Mengejar Pertumbuhan di Negara Tersebut

Berfokus pada model yang dapat diaplikasikan berulang (repeatable) serta evolusi pemikiran menjadi hal penting bagi perusahaan agar dapat unggul di pasar

JAKARTA, Indonesia, 26 Agustus 2019 /PRNewswire/ — Indonesia akan tetap menjadi pilihan penting bagi investasi Private Equity di Asia Tenggara dan memiliki potensi dalam pertumbuhan merger dan akuisisi (M&A), dengan minat terbesar berada pada aset-aset investasi yang berpusat di Indonesia, khususnya growth capital. Hal ini dipaparkan oleh Bain & Company di Jakarta pada hari ini. Transaksi M&A juga kembali menjadi prioritas karena perusahaan saat ini ingin menggunakan kas pada neraca keuangan mereka, meskipun demikian transaksi ini masih didominasi oleh beberapa "mega-deals" saja di Indonesia.

Aset-aset investasi yang berfokus pada pasar di Indonesia sangat diminati oleh sejumlah investor regional, khususnya growth capital dalam sektor internet dan teknologi. Terdapat 14 transaksi private equity di luar properti dan infrastruktur di tahun 2018, naik 17% jika dibandingkan dengan pertumbuhan rata-rata selama lima tahun terakhir. Secara nilai, transaksi ini 136% lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata selama lima tahun terakhir, yang kebanyakan digerakkan oleh transaksi dengan nilai lebih besar.

Nilai transaksi M&A juga meningkat di seluruh Indonesia disebabkan oleh beberapa mega-deals penting yang berhasil mendongkrak nilai transaksi menjadi $14 miliar, meskipun jumlah transaksi secara keseluruhan menurun. Perusahaan domestik sendiri tampil sebagai penggerak utama di pasar M&A Indonesia pada 2018, mengungguli perusahaan asing.

Sebagian besar transaksi ini lebih bertujuan untuk membangun kapabilitas baru atau menambah produk atau segmen layanan baru daripada memperbesar perusahaan atau menghasilkan sinergi biaya. Menurut laporan M&A perdana dari Bain & Company, "M&A In Disruption", dirilis pada awal tahun ini, transaksi M&A yang tergolong scope deals di seluruh dunia berhasil melampaui transaksi berjenis scale deals untuk pertama kalinya sejak 2018. Sebanyak 51% dari seluruh kesepakatan strategis yang bernilai lebih dari satu miliar dolar merupakan transaksi scope deals, dimana hal ini dapat menjadi perkembangan terbesar di industri M&A dalam dekade terakhir.

"Banyak eksekutif telah beralih ke transaksi scope deals mengingat susahnya menjalani pertumbuhan organik," jelas Usman Akhtar, Partner, Private Equity, Bain & Company di Jakarta. "Secara lokal, kami yakin, tren tersebut masih belum banyak dimanfaatkan, namun, bisa saja menjadi area pertumbuhan penting di masa depan. Meski demikian, karena tarif yang tinggi dan besarnya fokus terhadap deals di sektor teknologi, kalangan perusahaan perlu berhati-hati dalam menjalaninya."

Untuk tahun lalu saja, Bain & Company telah menggarap lebih dari 1.500 proyek M&A di seluruh dunia bersama para pembeli strategis dan sponsor, dan telah mengidentifikasi apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan terbaik untuk sukses. Hal-hal ini termasuk:

  • Melengkapi kembali pendekatan terhadap due diligence
  • Memperluas cara berpikir tentang model operasi bisnis yang dijalankan setelah merger.
  • Mengembangkan cara-cara yang berbeda dalam pendekatan terhadap proses bisnis dan integrasi sistem.

Lebih lanjut, penelitian ekstensif yang dilakukan Bain & Company selama dua dekade terakhir telah mengungkap fakta yang cukup konsisten: kapabilitas M&A yang dapat diaplikasikan berulang (repeatable), yang dikembangkan melalui aktivitas M&A yang konsisten di setiap siklus ekonomi, berkontribusi kepada shareholder return yang lebih besar kepada para pemegang saham perusahaan. Temuan ini terus bertahan dari tahun ke tahun di berbagai industri. Keberhasilan dan kegagalan sebuah deal lebih dikarenakan oleh pengalaman dan keahlian yang terakumulasi dari waktu ke waktu, dan lebih tidak bergantung pada situasi-situasi independen terkait deal yang dijalankan.

"Agar perusahaan dapat menjadi yang terdepan, mereka harus berfokus pada sejumlah keahlian M&A yang dapat diaplikasikan secara berulang dalam strategi, penyeleksian, due diligence, dan integrasi. Hal ini penting, namun tidak mudah," kata Suvir Varma, Senior Advisor, Bain & Company. "Perusahaan kelak perlu beradaptasi dan mengubah strategi mereka dalam proses diligence dan integrasi ketika mereka mengejar scope deals untuk bertumbuh atau scope deals yang didorong oleh transformasi kapabilitas."

Editor’s note: Untuk memperoleh salinan data yang terperinci, atau mengatur jadwal wawancara bersama Varma atau Akhtar, silahkan menghubungi: Juliana Ong di juliana.ong@bain.com atau +65 62281025.

# # #

Tentang Bain & Company

Bain & Company adalah konsultan global yang membantu para pembuat terobosan paling ambisius di dunia dalam merumuskan masa depan. Memiliki 58 kantor di 37 negara, kami bekerja dalam satu tim dengan klien-klien kami dengan ambisi bersama untuk mewujudkan pencapaian luar biasa yang mengungguli para pesaing dan mendefinisikan kembali industri mereka. Kami melengkapi keahlian kami yang sesuai kebutuhan klien dan terpadu dengan ekosistem digital innovator untuk memberikan hasil dan kinerja yang lebih baik, cepat, dan bertahan lama untuk klien-klien kami. Sejak didirikan pada tahun 1973, kami selalu mengukur kesuksesan kami melalui kesuksesan yang dicapai oleh klien-klien kami. Kami bangga dapat mempertahankan tingkat advokasi klien tertinggi di industri ini, dan klien-klien kami telah menggungguli kinerja pasar modal sebesar 4:1. Informasi lebih lanjut tersedia di www.bain.com dan ikuti akun Twitter kami di @BainAlerts.

Related Links :

https://www.bain.com

Source: PRN Asia

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed