TPID Siap Kendalikan Tingginya Inflasi di Sumut dan Sibolga

oleh
Wali Kota Sibolga bersama dengan Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga berserta rombongan saat meninjau kondisi harga di Pasar Sibolga Nauli terkait tingginya inflasi di Sibolga bulan April 2019. (batakpost.com/HAT)

Sibolga, 22/5 (Batakpost.com) – Tercatat bulan April 2019 tingkat inflasi tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi Sumatera Utara, yakni 1,23 persen. Dengan tingginya inflasi di Sumatera Utara, Kantor Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara akan melakukan koordinasi dengan daerah-daerah di Sumatera Utara.

“Di Sumatera Utara ini ada empat kota inflasi yang dibentuk, yaitu Kota Medan, Pematangsiantar, Sibolga dan Padangsidempuan. Untuk dapat mengendalikan inflasi yang cukup tinggi ini, kami turun langsung melakukan koordinasi dengan keempat daerah inflasi ini. Dan hari ini kami berada di Sibolga dan sudah turun langsung ke pasar bersama dengan Wali Kota Sibolga, BI dan TPID Sibolga,” terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat didampingi Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi kantor Perwakilan BI Sumatera Utara Demina R Sitepu dan Suti Masniari Nasution Kepala Kantor Perwakilan BI Sibolga kepada wartawan, Rabu (22/5).

Dikatakan Wiwiek, tahun lalu inflasi di Sumut cukup rendah bahkan terendah se-Indonesia. Dan saat ini justru menjadi inflasi tertinggi. “Tentu ada keanehan dalam hal ini sehingga terjadi inflasi dari tingkat terendah se-Indonesia tiba-tiba menjadi tertinggi. Jika kondisi ini tidak segera kita sikapi, dikhawatirkan sampai akhir tahun ini inflasinya tetap tinggi. Memang kalau dilihat sumbangan inflasi dari Kota Sibolga tidak begitu besar, tetapi tetap harus diwaspadai, karena kalau semakin besar sumbangan inflasinya akan mempengaruhi inflasi Sumatera Utara. Dengan adanya koordinasi ini kami harapkan inflasi Mei dan Juni dapat terkendali,” harapnya.

Diakuinya, pada Mei-Juni merupakan titik krusial karena bulan puasa dan Lebaran. Tentu tingkat kebutuhan meningkat dan untuk itulah diharapkan kerja sama yang baik keempat kepala daerah kota inflasi untuk berperan aktif dan komit serta fokus terhadap inflasi daerah.

Wali Kota Sibolga, Syarfi Hutauruk menyebutkan penyebab terjadinya inflasi di Kota Sibolga turut dipengaruhi ketersediaan barang dari luar daerah. Kadang-kadang hal itu dimanfaatkan oleh para pedagang. Untuk mengantisipasi hal itu, TPID Sibolga terus melakukan koordinasi dan melakukan operasi pasar.

“Hari ini sudah kita gelar pasar murah di Sibolga dan dilanjutkan dengan operasi pasar. Awalnya kita khawatirkan pendulang inflasi Sibolga dari bawang merah, bawang putih, cabai merah dan telur. Namun, saat tadi kami tutun ke pasar bersama dengan Kepala Kantor Perwakilan BI Sumatera Utara, harga bawang merah, bawang putih, cabai merah dan tomat sudah turun. Hanya saja harga gula pasir dan telur mengalami kenaikan. Hal ini akan menjadi perhatian kami dan segera kami koordinasikan untuk mencari solusi,” kata Syarfi.

Selain melakukan operasi pasar dan menggelar pasar murah, Wali Kota Sibolga yang juga Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sibolga akan membagikan beras sejahtera (Rasta) mulai 1 Juni 2019. Bersama dengan Badan Zakat Nasional juga akan membagikan zakat menjelang Lebaran, sehingga daya beli masyarakat bisa meningkat. (HAT)