Jumlah Kematian Ibu dan Neonatal di Tapteng Terus Menurun

oleh
Kasi Gizi Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah, Ernita Naibaho. (batakpost.com/HAT)

Tapteng, 6/5 (Batakpost.com)-Jumlah kematian ibu saat melahirkan di Kabupaten Tapanuli Tengah Sumatera Utara, dalam kurun dua tahun terakhir ini mengalami penurunan. Dimana untuk tahun 2017 dan 2018, jumlah ibu yang meninggal masing-masing 8 orang.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, Nursyam melalui Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Ernita Naibaho, ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya di Pandan, Senin (6/5).

Diungkapkan Ernita, penurunan jumlah ibu yang meninggal saat melahirkan dikarenakan upaya dan fasilitas sudah memadahi yang dilakukan Pemkab Tapanuli Tengah melalui Dinas Kesehatan, khususnya ketersediaan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK). Ditambah dengan adanya pelatihan manajemen kegawat daruratan, penilaian akreditasi Puskesmas serta kunjungan petugas kesehatan.

“Sesuai dengan aturan, seharusnya tidak ada kematian ibu dan anak saat melahirkan. Namun karena masih banyak faktor yang terjadi di masing-masing daerah, sehingga kematian tersebut belum dapat dihilangkan, walaupun jumlahnya terus menurun di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dan kami telah menargetkan tahun 2022, jumlah kematian ibu dan anak bisa berkurang di Kabupaten Tapanuli Tengah,” ungkapnya.

Selain jumlah kematian ibu yang terus menurun, jumlah neonatal (bayi baru lahir usia 0-28 hari) di Kabupaten Tapanuli Tengah juga mengalami penurunan.

Dikatakan Ernita, tahun 2017 jumlah neonatal yang meninggal sebanyak 30 orang, dan tahun 2018 sebanyak 27 orang. Penurunan itu dikarenakan progam dan pelayanan yang terus dioptimalkan kepada sianak, seperti melakukan screening (pemeriksaan) kepada anak yang baru lahir untuk mengetahui kelainan bawaan bayi.

Adapun penyebab kematian ibu dan neonatal menurut Ernita, karena berbagai faktor termasuk jarak tempuh yang cukup jauh dan akses transportasi yang belum memadahi, sehingga ibu dan anak terlambat dirujuk. Selain itu juga, faktor kesadaran dari keluarga dan si ibu turut mempengaruhi.

Sedangkan kendala dari sektor pelayanan medisnya adalah pemantapan peningkatan kapasitas petugas penolong persalinan.

“Inilah data yang kami miliki ini dan data ini sudah valid karena melalui audit Maternal Perinatal. Jadi data ini adalah jumlah kematian ibu dan neonatal, bukan angka kematian ibu dan anak. Karena yang berhak mengeluarkan jumlah angka kematian ibu dan anak adalah BPS,” tandasnya.

Sementa itu sesuai dengan data yang dimiliki oleh USAID, bahwa jumlah kematian ibu di Kabupaten Tapanuli Tengah tahun 2017 sebanyak 12 kasus dan menempati posisi ke 7 di Provinsi Sumatera Utara. (RED)