Dua Akademisi Asal NAD Studi Banding ke Sibolga

oleh
Dua Akademisi dari NAD saat melakukan studi banding ke Kota Sibolga dan Pelabuhan Kota Sibolga. (batakpost.com/Ist)

Sibolga, 29/12 (Batakpost.com)- Dua orang Akademisi dari Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) melakukan studi banding dalam bidang pengembangan dan penataan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe dan Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong di Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, ke Kota Sibolga dan Pelindo, Jumat (28/12).

Adapun kedua Akademisi itu adalah Profesor Apridar dari Universitas Malikul Saleh dan Doktor Mirza Tabrani dari Universitas Syah Kuala.

Kedatangan keduanya bersama dengan seorang regulator dari pemerintahan atas ajakan pengusaha nasional yang juga Direktur Utama (Dirut) Trans Continent, Ismail Rasyid. Kedatangan mereka disambut langsung General Manager (GM) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Sibolga, Agust Deritanto bersama Manager Bisnis dan Tehnik, Irfan, serta Manager Keuangan dan Umum, Ahmad Sofyan, di pelabuhan Sibolga.

Trans Continent diketahui merupakan perusahaan swasta nasional bergerak di bidang jasa, transportasi, logistik, pertambangan, minyak, kargo dan pengangkutan bahan berbahaya dan beracun (B3), yang membuka kantor cabang di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Kota Sibolga.

Namun pemilihan Kota Sibolga khususnya Pelabuhan Sibolga sebagai tempat studi banding, menjadi sebuah pertanyaan, karena mengingat Kota Sibolga adalah Kota kecil, demikian juga dengan Pelabuhan Sibolga. Sementara kawasan yang mau dikembangkan di Aceh tersebut cukup besar.

Menurut Doktor Mirza, hal tersebut bukan masalah bagi rencana pengembangan dan penataan KEK Arun Lhoksumawe yang kini sudah berjalan dan KIA Ladong yang sudah di Lounching oleh Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Pihaknya kata dia, hanya ingin mengetahui bagaimana pelabuhan Sibolga bisa memulai sampai bergeliat untuk kemudian bisa diterapkan dikedua kawasan di Aceh tersebut.

“Kita memang ingin yang kecil-kecil dulu supaya enak belajarnya. Kalau sudah besar, susah. Ini hanya bagaimana membangun rintisan untuk mengembangkan KEK Arun Lhokseumawe dan KIA Ladong yang belum maksimal sekarang ini,”ujarnya.

Mirza mengaku, pihaknya sudah bisa melihat dari mana akan memulai pengembangan KEK Lhokseumawe dan KIA Ladong. Tinggal mensinergikan dengan pihak Kamar Dagang dan Industri (Kadin), mengajak pengusaha-pengusaha di Aceh untuk bermain serta memberikan kemudahan regulasi.

“Kalau lainnya seperti badan kawasan, itu sudah ada disana. Dari sisi fasilitas, kita ingin bangun di KIA Ladong dan sudah mau dikemaskan. Kalau di KEK Arun Lhokseumawe, itu sudah lengkap,” tukasnya.

Semenara itu Dirut Trans Continent, Ismail Rasyid, menyampaikan bagaimana dirinya bisa sampai mengajak kedua akademisi tersebut ke Kota Sibolga. Ia ingin memperlihatkan hal positif yang bisa menjadi acuan bagi pengembangan di KEK Arun Lhokseumawe dan KIA Ladong dari Kota Sibolga. Ia memandang Kota Sibolga sebagaI salah satu wilayah di Sumut yang perkembangannya lumayan cepat dan memberikan efek multiplayers yang bagus bagi masyarakat, terutama menyangkut logistik.

“Saya sebagai salah satu pengusaha yang beraktivitas di wilayah ini, melihat bagaimana bagusnya hubungan antar departemen (lembaga/instansi pemerintahan) di Kota Sibolga dan Tapteng, sehingga membuat proses-proses usaha kondusif. Inilah kenapa saya tunjukkan dan ajak mereka (pengamat, ahli ekonomi dan pengambil keputusan) kemari. Ditempat kecil seperti ini bisa diberdayakan semaksimal mungkin,” ucapnya, Sabtu (29/12) di Sibolga.

GM Pelindo I Sibolga, Agust Deritanto, sebelumnya telah memberikan informasi secara panjang lebar tentang apa yang harus dilakukan para stake holder terkait jika baru memulai pengembangan sebuah kawasan serta hal yang perlu diurus bila kawasan KEK Arun Lhokseumawe dan KIA Ladong sudah berjalan nantinya. Sekaligus Agust memperlihatkan situasi dan kegiatan dalam kawasan pelabuhan Sibolga. (REL)