2019 BPS Hitung Inflasi di Pulau Nias

oleh
Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sibolga, Suti Masriani Nasution . (batakpost.com/HAT)

Sibolga, 22/11 (Batakpost.com)- Bank Indonesia Sibolga meminta kepada kepala daerah di kepulauan Nias agar konsentrasi untuk situasi harga dan inflasi di Pulau Nias. Pasalnya terhitung sejak tahun 2019, BPS akan menghitung inflasi di daerah tersebut.

Demikian dijelaskan Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sibolga, Suti Masriani Nasution kepada wartawan, Kamis (22/11).

Untuk mendukung program itu, kata Suti, perlu diselamatkan dulu stabilisasi harga pangan di Pulau Nias dengan cara menjalin kerjasama antara Kabupaten seperti yang sudah dilakukan oleh Pemko Sibolga dengan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Tapanuli Utara.

“Sebagaimana kita ketahui bahwa Nias tidak dapat menghasilkan bahan pangannya sendiri, dan membutuhkan daerah-daerah yang siap untuk mensuplay bahan makanan ke Pulau Nias. Diharapkan bulan Desember 2018 ini, Bank Indonesia Sibolga akan memfasilitasi kerjasama antar Pemerintah Gunung Sitoli dengan Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara,”ujarnya.

Disebutkan Suti, kalau selama ini fluktuasi harga kurang diperhatikan pemerintah setempat di Pulau Nias, maka mulai tahun depan pemerintah daerahnya harus konsen karena akan dihitung BPS inflasinya.

Sementara itu terkait penandatangan MoU antara Pemko Sibolga dengan Pemkab Humbahas dan Tapanuli Utara yang dilangsungkan kemarin di BI Sibolga, cukup diapresiasi Bank Indonesia Sibolga. Dimana menurut Suti, kerjasama itu adalah yang pertama kalinya di wilayah Provinsi Sumatera Utara.

“Ini adalah kerjasama pertama kalinya di wilayah Sumatera Utara, dan pak Gubernur sangat mendukung upaya ini, karena beliau cukup peduli serta perhatian akan situasi harga dan juga inflasi di Sumatera Utara,”sebut Suti.

Ditambahkannya, salah satu penyebab terjadinya inflasi di Kota Sibolga adalah cabai merah. Sementara ada daerah yang memiliki lahan yang cukup luas untuk petani cabai merah seperti di Humbahas dan Tapanuli Utara.

“Kenapa situasi ini tidak dimanfaatkan untuk saling meguntungkan? Hal inilah yang diinisiasi BI Sibolga untuk dapat mengendalikan inflasi dari cabai merah. Dan bukan itu saja, kedua daerah baik Humbahas dan Taput mampu untuk mensuplay bawang merah, tomat, dan buah-buahan ke Sibolga dan ke Pulau Nias. Sedangkan dari Sibolga dan Nias bisa mensuplay ikan dan juga pisang,”ujarnya.

Sutipun berkeyakinan dengan terlaksananya kerjasa sama antar ketiga daerah, akan memotong mata rantai perdagangan yang panjang, dan dampaknya di level petani, petaninya akan sejahtera karena ada kepastian harga. Demikian juga pada level masyarakat selaku konsumen kesediaan cabai terjamin dengan harganya stabil. Karena yang terjadi selama ini walaupun harga cabai naik di pasaran, namun harga jual dari petani cabai tetap rendah.

“Dengan adanya kerjasama ini maka semuanya akan diuntungkan,”tandasnya. (HAT)