Tidak Ada Lagi Bapakku Ompung…

oleh
Rudi Lumbantoruan bersama dengan Isterina Dewi Manik dan Kedua anaknya Kwinsa dan Unggul. (facebook)

Tapteng, 29/10 (Batakpost.com)- Siang hari itu rumah orangtua Rudi Lumbantoruan, (39) yang berada di Gang Saroha, Keluarahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, langsung ramai didatangi keluarga dan tetangga. Pasalnya Rudi Lumbantoruan yang merupakan anak pertama dari Ompung Kwinsa menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Senin pagi, (29/10).

Tangisan ibu korban Ompung Kwinsa boru pecah ketika menyaksikan siaran televisi yang memastikan bahwa pesawat yang ditumpangi anaknya benar jatuh ke laut. Histeris dan menjerit sembari memangil nama Rudi itulah yang terlihat di tengah rumah yang berukuran besar itu.

Amang anakku Rudi naburju aha do na masa on amang.. paet nai jo amang namasa on. Bohado nungaeng dihalala ho amang pas namadabu i.. dijou ho do amang Tuhan i. Amang anakku naburju Rudi..(Anakku Rudi yang baik apanya yang terjadi nak, kok pahit kali kejadian ini. Apakah kau panggil nama Tuhan nak ketika jatuh kapal kalian itu anakku Rudi..) teriak Ompung Kwinsa boru.

Tangisan ibu Rudi inipun semakin kencang ketika cucu pertamanya Kwinsa anak pertama dari Rudi menagis sejadi-jadinya memangil bapaknya.

“Tidak ada lagi bapakku, tidak ada lagi bapakku Ompung..tidak ada lagi kawanku. Cemanalah ini Ompung”. Tangis Kwinsa sejadi-jadinya.

Bibi Kwinswa (namborunya) berusaha menenangkan ponakannya dengan menyebutkan masih ada udanya, bou dan ompungnya yang menemaninya. Namun tangisan Kwinsa yang duduk di bangku SD kelas 3 itu tidak terbendung dan selalu memangil-mangil bapaknya.

Warga yang datangpun tidak sanggup menahan ari matanya melihat jeritan anak bungsu Rudi. Apalagi Rudi dikabarkan bulan Desember ini akan pindah tugas ke Tapteng dari Bangka Belitung.

Ayah Rudi Ompung Kwinsa Doli yang tampak lebih kuat dari isterinya mengisahkan, bahwa selum anak pertamanya itu berangkat dari Tapteng menuju Medan masih sempat membawa kedua anaknya Kwinsa (9) dan Unggul, (7) serta keponakannya dan keluarga mandi-mandi ke air terjun Aloban di Kecamatan Tapian Nauli.

“Pas hari Sabtu itu, Ia (Rudi) memaksa kita semua untuk ikut mandi ke pemandian Aloban. Ia rindu sekali katanya untuk melihat Aloban karena sudah lama katanya tidak melihat pemandian itu. Karena sudah dipaksa, akhirnya semua keluarga berangkat. Dan malam harinya Rudi tidak banyak cerita, mungkin karena mati lampu malam itu atau kecapean mandi-mandi. Itulah kenangan terakhir yang kami saksikan dari Rudi,”ungkapnya.

Awal yang mengetahui berita kecelakaan pesawat ini adalah adik ipar Rudi. Sedangkan ayah Rudi pagi itu sedang mengurus STNK balik nama kendaraan Rudi di kantor Samsat.

“Kemarin itu Rudi mengurus balik nama mobil Rush nya. Karena belum siap, saya diminta untuk menyelesaikan balik nama STNK itu. Jadi saya mendapat kabar pesawat Rudi jatuh saat lagi mengurus balik nama STNK mobilnya di Kantor Samsat. Begitu dikabarkan pesawat yang ditumpangi Rudi jatuh saya tidak tahu lagi mau berbuat apa. Bahkan berkas STNK balik nama Rudi tercampak entah kemana,”katanya.

Sementara itu kondisi rumah orangtua Rudi sampai malam ini masih ramai dikunjungi warga. Merekapun terus menyaksikan perkembangan melalui televisi. Semenatara istri Rudi Dewi br Manik sudah terbang tadi sore menuju Jakarta. (HAT)

Berikut video tangisan kwinsa anak bungsu Rudi: