oleh

Cium dan Peluk Ibunya Sebelum Terbang

Tapteng, 29/10 (Batakpost.com)- Rudi Lumbantoruan yang lahir pada tanggal 19 Februari 1979 di Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, terbang dari Jakarta menuju Pangkal Pinang menggunakan pesawat Lion Air JT 610 dan duduk di seat (kursi) nomor 29 F. Hal itu dibuktikan tiket korban yang sempat dikirimkan korban kepada keluarganya di Tapteng melalui WA nya.

Bahkan sebelum Rudi terbang dari Bandara Soekarno Hatta masih sempat video call dengan istrinya sembari menayakan kabar kedua buah hatinya yang tinggal bersama isterinya di Namira, Kelurahan Pandan Wangi, Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Ayah Rudi Oppung Kwinsa, (64) menceritakan, bahwa anaknya bulan Desember tahun ini akan pindah tugas ke Kabupaten Tapanuli Tengah karena group perusahaan tempat Rudi bekerja di Bangka Belitung ada juga di Tapteng.

Anak kedua Rudi, Unggul Lumbantoruan (7) saat memang selendang wisuda bapaknya. (batakpost.com/HAT)

“Dulunya dia (Rudi) kerja di PT CPA yang berada di Kecamatan Hutabalang Kabupaten Tapanuli Tengah. Jabatannya sebagai Askep. Setelah dua tahun bekerja di sana, dipindahankan ke kantor cabang CPA di Rantau Prapat. Dari Rantau Prapat dipindahkan ke Bangka Belitung untuk menduduki jabatan Manager. Dan ketika rapat di Medan minggu lalu, perpindahan Rudi sudah disetujui pimpinannya, dan sudah disampaikan kepada kami bahwa ia akan kerja di PT CPA kembali bulan Desember ini. Namun inilah kenyataan yang harus kami terima,”katanya sembari mengusap air matanya.

Rudi adalah anak pertama dari empat bersaduara. Ia lulusan dari Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2003 jurusan Pertanian. Rudi dikaruniai sepasang anak. Anak pertama Kwinsa Lumbantoruan, (9) duduk dibangku kelas III SD, dan adiknya, Unggul Lumbantoruan (7) kelas I SD.

Kwinsa Lumbantoruan (9) putri pertama Rudi saat memegang tempat ijazah dan selendang wisuda bapaknya. (batakpost.com/HAT)

Rudi menikah dengan Dewi Manik yang bekerja sebagai guru PNS di SMPN Lumut, Kecamatan Lumut Kabupaten Tapanuli Tengah. Sebelum Rudi meninggalkan kediaman orangtuanya di Gang Saroha, Kelurahan Lubuk Tukko, Kecamatan Pandan, Minggu pagi, (28/10) Rudi memeluk dan mencium ibunya.

“Andorang soborhat anakku naburju i tu bandara diumma ibana do au jala dihaol gomos, huhut didok laoma au da omak. (Sebelum anakku itu pergi ke bandara Pinangsori, saya diciumnya dan dipeluknya sembari dikatakan Pergilah saya ya mak),”kata ibu Rudi sembari menangis di kediamannya, Senin sore, (29/10).

“Rupanya ciuman dan pelukan anakku itu sebagai tanda untuk kepergiannya. Sakit kali hatiku ini anakku Rudi, kenapa lah ini harus terjadi kepada kita amang,”tangisnya berkali-kali.

Walaupun sambil menangis, ibu Rudi ompung Kwinsa boru ini masih sempat menceritakan, bahwa hari Sabtu (27/10) sewaktu anaknya pergi bersama cucu-cucunya mandi ke Aloban, ia membuka-buka file ijazah anaknya Rudi.

Ibunya Rudi boru Hutauruk saat memegang selendang wisuda anaknya Rudi. (batakpost.com/HAT)

“Aku gak tahu kenapa aku membuka file-file ijazah anakku Rudi ini. Dan aku lihat di tempat ijazahnya tertulis dia tamat tahun 2003 dari USU. Selempang Sarjana dan tempat ijazahnya masih ada di rumah ini tersimpan rapi. Dan sudah kurencanakan agar selempang wisuda dan tempat ijazahnya di pajang di rumah mereka nanti. Namun ternyata inilah tanda-tanda dari itu semuanya anakku Rudi, tak perlu lagi aku pajang ini anakku Rudi,”tangisnya.

Adapun Rudi Lumbantoruan menjadi korban penumpang Lion Air yang jatuh itu setelah pesawat yang ditumpangi Rudi delay dari Bandara Kuala Namu Medan.

Awalnya Rudi terbang ke Medan untuk mengikuti rapat perusahaan tempatnya bekerja minggu lalu. Karena sudah selesai rapat, Rudi pun mengambil cuti sekalian untuk pulang ke rumah orangtuanya dan rumah mereka yang ada di Lubuk Tukko Pandan.

Setelah masa cutinya habis, Rudipun memesan tiket tujuan Pinangsori-Jakarta transit Medan. Rudi terbang Minggu pagi, (28/10) dari Pinangsori menuju Medan. Ternyata pesawat transit Rudi dari Wings ke Lion tujuan Jakart delay. Akhirnya Rudi terbang Minggu sore dari Medan menuju Jakarta. Akibat delay itu, pesawat rute Jakarta-Pangkal Pinang sudah terbang. Akhirnya Rudipun harus menginap di Jakarta satu malam menunggu penerbangan Senin pagi.

Setelah jadwal penerbangan tiba, Rudipun terbang bersama dengan pesawat Lion Air yang naas itu. Pun demikian harapan dan doa kiranya ada mujizat.

Pasca kejadian ini isteri Rudi Dewi boru Manik langsung terbang ke Jakarta Senin sore dari Bandara Pinangsori. Dan dikabarkan sudah tiba di Jakarta. (HAT)

Video tangisan ibu Rudi:

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed