Lahir Normal dan Sehat, Usia 5 Tahun Terserang Polio dan Menjadi Lumpuh

oleh
Anton Sianturi penyandang disabilitas saat berdialog dengan Wakil Bupati Tapteng Darwin Sitompul saat pelaksanaan ujian simulasi CPNS Pemkab Tapteng 2018. (batakpost.com/HAT)

Tapteng- Lahir dalam keadaan normal dan sehat adalah dambaan setiap orang. Tidak satupun di didunia ini yang menginginkan dirinya terlahir dengan kekurangan fisik. Namun jika hal itu sudah terjadi apa yang harus dilakukan.

Anton Sianturi, SE adalah sosok yang luar biasa yang tidak mau mengalah akan situasi dan keterbatasan yang dimilikinya. Bahkan untuk menimbah ilmu demi masa depan dipertaruhkannya, dengan harapan ia akan mendapatkan penghasilan yang layak dan mencukupi serta bisa membantu kedua orangtua dan adik-adiknya.

Hal itulah yang mendasari anak pertama dari empat bersaudara ini tidak menyerah akan kegagalan. Termasuk empat kali kegagalannya menguji rezeki melalui jalur CPNS.

Sebelum mengikuti ujian simulasi CPNS Pemkab Tapteng tahun 2018, lulusan dari Universitas Katolik Santo Thomas Medan ini berbagi kisah dengan www.batakpost.com.

“Saya lahir normal lae, kondisi fisik saya lengkap semua. Dan barulah diusia lima tahun saya terserang polio dan demam tinggi yang mengakibatkan kaki saya lumpuh dan mengecil seperti sekarang ini. Semua itu tidak tersesalkan lagi lae, aku juga tidak mau menyalahkan kedua orangtuaku, karena memang saat itu sarana medis juga masih terbatas dan pengetahuan orangtuaku juga sangat terbatas tentang polio ini,”ujarnya mengawali perbicangan.

Awalnya saya protes lae, kenapa saya harus begini. Tetapi setelah saya sadari tidak ada gunanya lagi protes dan semuanya sudah terjadi. “Berkat doa dan semangat yang diberikan kedua orangtuaku serta pengenalan akan firman Tuhan, saya sanggup melewati setiap tahapan dalam kehidupan ini.

Anton Sianturi saat merangkak dari lantai I menuju lantai II gedung SMAN 1 Matauli Pandan tempat pelaksanaan ujian Simulasi CPNS Pemkab Tapteng tahun 2018. (batakpost.com/IST)

Rasa percaya diri dan kemandirian Anton harus diacungi jempol. Ketika dia menaiki lantai II gedung SMAN 1 Matauli Pandan tempat diselenggarakannya simulasi ujian CPNS tahun 2018, dia menapaki anak tangga sendiri tanpa mau dibantu. Karena menurutnya, selagi masih bisa dikerjakan kenapa harus merepotkan orang lain.

“Sejak dulu saya sudah punya prinsip seperti itu lae. Kalaupun saya mau dibonceng naik kereta, saya berjuang sendiri untuk naik dan turun dari boncengan. Memang awalnya cukup berat karena harus mengandalkan kekuatan kedua tangan. Jadi tumpuhan badan saya ini berada di kedua telapak tangan saya ini. Nah, kalau saya harus tetap tergantung kepada orang lain, kapanlah saya bisa mandiri lae,”ujarnya dengan senyum.

Diuangkapkan guru honor SMA Negeri 1 Sorkam Barat ini, meguji keberuntungan lewat jalur PNS sudah menjadi kerinduannya sejak duduk dibangku kuliah. Namun dewi keberuntungan belum berpihak kepadanya. Ia berdoa agar kiranya tahun ini ia berhasil menjadi abdi negara demi menuju masa depannya yang terjamin.

“Saya sudah lima tahun lae guru honor di SMA Negeri 1 Sorkam Barat, dan belum juga masuk K2. Saya berharap kiranya semangat dan perjuangan ini membuahkan hasil yang manis. Pun demikian saya tidak akan menyesal apalagi menyalahkan Tuhan jika saya tidak berhasil nanti. Tuhan selalu punya cara dan kita kita sudah berusaha bekerja dan berdoa,”ucapnya.

Pria single inipun menyampaikan pesan kepada teman-temannya penyandang disabilitas agar tidak patah semangat. Syukuri apa adanya dan selalu berserah kepada-Nya, pesannya. (HAT)