Pelajar Taput Diperkenalkan Dengan Opera Batak Bertajuk Belajar Bersama Maestro

oleh
Peserta BBM Opera Batak diikuti oleh 30 peserta dari siswa-siswi enam SLTP dan SLTA di Tarutung, foto bersama dengan maestro Thompson HS. (facebook thompson HS)

Tarutung, 2/10 (Batakpost.com)-Tahun 2002 lalu Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta melaksanakan Program Revitalisasi Opera Batak dengan mengadakan pelatihan selama seminggu untuk generasi muda di Tarutung, Tapanuli Utara. Program itu terlaksana atas kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara yang waktu itu masih dipimpin oleh Dr. RE. Nainggolan, M.M. Hasil pelatihan yang diikuti 20 peserta waktu itu menghasilkan satu simulasi pertunjukan dengan mengangkat lakon cerita “Siboru Tumbaga”, salah satu lakon cerita Opera Batak yang sangat dikenal karena pesannya atas pembagian warisan antara anak laki-laki dan perempuan dalam tradisi Batak Toba.

Simulasi pertunjukan itu juga berkembangan menjadi satu produksi pertunjukan yang dipentaskan di beberapa tempat sampai 2004 melalui grup percontohan hasil revitalisasi dengan nama Grup Opera Silindung (GOS). Lewat hasil program revitalisasi dan grup percontohan itulah aktivitas pertunjukan Opera Batak di sejumlah tempat mulai muncul kembali dan semakin dikenal di Indonesia dan luar Negeri. Sebagai seni pertunjukan yang lahir pada tahun 1920-an, Opera Batak melestarikan peninggalan tradisi dan membuka kesadaran atas modernisasi yang datang dari luar. Pentas Opera Batak setelah direvitalisasi sudah bisa dipentaskan di Jerman sejak 2013 dan di Malaysia baru-baru ini bersama para dosen dan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatera Barat.

Hasil revitaliasi Opera Batak di Tarutung 16 tahun yang lalu dengan terbentuknya Grup Opera Silindung (GOS). (Ist)

Kota Tarutung kembali seperti menggeliat dengan mendapat kesempatan kembali dengan satu program yang terkait dengan Opera Batak. Program itu adalah Kegiatan Belajar Bersama Maestro (BBM) Opera Batak yang dilaksanakan oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tapanuli Utara, mulai 29 September sampai 12 Oktober 2018. “Kegiatan ini,” sebagaimana yang disampaikan oleh Irini Dewi Yanti, S.S, M.SP (Kepala BPNB Aceh) dalam sambutan dalam acara pembukaan BBM Opera Batak (29/09), “merupakan internalisasi nilai dengan kehadiran maestro yang mengajarkan prinsip hidup sekaligus prinsip yang berlaku dalam Opera Batak.”

Peserta BBM Opera Batak diikuti oleh 30 peserta dari siswa-siswa enam SLTP dan SLTA di Tarutung,. Sedangkan maestro yang menjadi mitra belajar dalam kegiatan tersebut adalah Thompson Hs, penerima Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud RI pada tahun 2016 atas dedikasinya sebagai Pelestari Opera Batak.

Sampai saat ini Thompson Hs masih memberikan waktu kepada kelanjutan masa depan Opera Batak melalui kerjasama dengan berbagai pihak melalui Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) yang didirikan sebagai komunitas yang melanjutkan Program Revitalisasi Opera Batak untuk kalangan dan wilayah yang lebih luas di luar Tapanuli Utara. Opera Batak sudah menjadi pintu pembelajaran terhadap potensi dan kekayaan tradisi serta menjadi sumber inspirasi untuk perkembangan dunia seni pertunjukan seperti teater.

Thompson HS sang Maestro Opera Batak saat memberikan materi kepada peserta. (facebook Thompson HS)

Thompson Hs dipercayakan sampai saat ini menjadi Direktur PLOt, yang kadang harus terlibat sebagai pelatih dan pemain Opera Batak bersama generasi baru. Pada tahun 2015 pemain-pemain Opera Batak generasi baru melalui PLOt muncul semakin dominan dari kalangan akademik atau berpendidikan dari sekolah formal. Sehingga harapan atas kelangsungan Opera Batak memang harus ditaruhkan kepada orang-orang yang sudah mendapat pendidikan formal di sekolah.

“Tidak mengejutkan setelah 16 tahun, Opera Batak harus dikenalkan kembali di Tarutung kepada 30 pelajar SLTP dan SLTA melalui BBM Opera Batak. Pengenalan Opera Batak untuk 30 pelajar itu sudah berlangsung dengan jadual-jadual materi lainnya terkait elemen-elemen yang ada dalam Opera Batak, seperti musik, lagu, dan tari. Proses BBM Opera Batak berlangsung seperti pelatihan 2002 lalu dengan tahapan yang lebih sistematis dan dilengkapi sejumlah pelatihan musik/lagu dan tari dari Tim PLOt yang sudah bekerja dengan Thompson Hs sejak 2004; di antaranya Oktavianus Matondang (Alumnus Etnomusikologi USU), Samuel Samosir (generawsi ke-2 di GOS), Editua Nainggolan (pemusik dan anak almarhum Maestro Alister Nainggolan), Edi Sihotang (Seniman Rupa), dan dua mahasiswa UNIMED (Septa Turnip dan Tania Surbakti) yang sudah terlibat sejak 20016 dalam produksi dan program PLOt,”ujarnya.

Diungkapkannya, kegiatan yang ditempatkan di Gedung Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tapanuli Utara berlangsung mengalir dan diterima dengan mudah oleh semua peserta. 20-an materi terkait Opera Batak dan seni pertunjukan diberikan dalam kegiatan itu hingga berpuncak pada simulasi hasil pelatihan. Simulasi hasil pelatihan itu juga diharapkan dapat meningkat sebagai satu pertunjukan Opera Batak yang akan mengisi acara dalam Program INDONESIANA yang akan dilangsungkan di dua tempat (Tarutung dan Muara) Tapanulis Utara(13- 17 Oktober 2018) dengan tema yang terkait dengan ulos, tenun tradisi Batak. (Relis Pers – Thompson Hs)