Di Bandara Kualanamu Air Mata Ibu dan Anak Itu Harus Tercurah

oleh
Destriwati Limbong bersama dengan Ibunya Simra Simamora saat berada di Pontianak. (batakpost.com/RED)

Pandan– Bersyukur dan bangga atas talenta yang dimilikinya ditambah semangat dari ibunya yang selalu menopang penampilannya, itulah ungkapan Destriwati Limbong yang berhasil meraih medali emas Pesparawi Nasional tahun 2018 di Pontianak Kalimantan Barat beberapa waktu lalu.

Diungkapkan gadis remaja yang sedang menimbah ilmu di SMA Negeri 1 Kota Sibolga Sumatera Utara itu, bahwa dukungan dan kehadiran ibunya menyaksikan setiap penampilannya adalah topangan kuat terhadapnya. Hal itulah yang dirasakannya setiap kali tampil di atas panggung.

Sewaktu Destri juga mengikuti Pesparawi tingkat Provinsi Sumatera Utara tahun lalu, sang bunda juga hadir bersamanya. Walaupun tidak bisa selalu bersama, namun pada hari pertunjukan kehadiran sang bunda menjadi semangat kuat bagi Destri.

Keberangkatan Destripun untuk bertanding ke Pontianak mengikuti Pesparawi Nasional 2018 memiliki tantangan tersendiri. Dimana jarak dan finansial yang menjadi penghalang utama bagi ibunda Destri untuk menemani buah hatinya tampil di panggung Nasional.

“Sedih juga rasanya jika mama tidak ikut memberikan dukungan disaat penampilanku kemarin. Karena dengan melihat sosok mama duduk menyaksikan aku bernyanyi di kursi penonton itu adalah kekuatan baru bagiku,”curhat Destri kepada batakpost.com

Diakui anak bungsu dari pasangan Torang Limbong dan Simra Simamora ini, sewaktu mengikuti sesi latihan di Pandan, dirinya selalu dibayangni rasa sedih seandai ibunya tidak ikut mendampinginya ke Pontianak.

Destripun selalu berdoa agar kiranya Tuhan membuka jalan agar ibunya bisa mendampinginya. Apalagi ini merupakan pengalaman pertamanya bertarung di tingkat Nasional dan jauh dari provinsi Sumatera Utara.

“Kami selalu berdoa agar Tuhan memberikan jalan supaya mama bisa ikut. Karena tanpa kehadiran mama seperti ada yang kurang. Dan puji Tuhan doa kami didengarkan Tuhan, karena mama mendapat tiket pulang pergi Medan-Kalimantan,”ungkapnya seraya mengaku bahwa air mata bahagia mereka tidak terbendung lagi ketika kepastian tiket mama nya sudah ada.

Ketika waktu keberangkatan tiba dan sudah berada di Bandara Kualanamu Internasional Airport, Destri harus menangis. Karena nama ibu tercintannya tidak terdaftar, sementara waktu boarding pass sudah tiba. Panitia keberangkatan dari Medan bersama dengan panitia dari Tapteng repot untuk mencari tahu dimana permasalahan kenapa orangtua Destri tidak masuk dimanifes penumpang. Karena waktu terus bergulir dan sudah saatnya menuju pintu keberangkatan, akhirnya ibu Destripun terpaksa tinggal di Bandara KNO. Air mata bunda dan anak inipun menjadi sejarah keberhasilan Destri meraih medali emas.

Berkat upaya dan usaha yang dilakukan panitia, akhirnya ibunda Destri keesokan harinya bisa diterbangkan dari Medan-Jakarta, dan dari Jakarta ke Pontianak. Di dalam pesawat raud sedih Destri terlihat jelas, walaupun beragam cara dilakukan untuk menyakinkan dirinya. Bahkan di dalam kamar Hotel megah Harris Pontianak, Destri masih berandai-andai, akankah bundanya mendarat di Negeri Khatulistiwa itu?.

Lagi-lagi Tuhan itu maha baik, Destripun bertemu dengan bundanya. Pelukan ibunya begitu dirasakan Destri ketika baru tiba di lobby Hotel Harris Pontianak. Air mata bahagia Destri kembali terurai, karena sumber semangatnya sudah bersamanya.

Kemesraan ibu dan anak inipun terus terpancar dalam setiap kegiatan. Destri tampak gembira dan bahagia. Bahkan dihari H penampilannya, pelukan sang mama tetap menyemangatinya.

Para dewan juripun kagum akan kemampuan gadis yang sebentar lagi berusia 17 tahun itu, dan menghargainya dengan medali emas.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas talenta yang diberikan kepada saya, sehingga bisa membawa nama baik Provinsi Sumatera Utara khususnya nama Kabupaten Tapanuli Tengah di tingkat Nasional,”katanya.

Diakui pemilik bintang Sagitarius ini, bahwa saingannya di tingkat Nasional sangat luar biasa. Itu terlihat dari pesaingan nilai yang begitu ketat dari masing-masing kontingen. Dengan modal latihan yang cukup selama ini, Destri tidak gentar dan mampu menguasai panggung.

“Kemarin saya tampil dengan nomor urut 3. Jadi masih segar bangetlah para dewan jurinya. Demikian juga para penonton dan sporter yang sudah memenuhi tempat perlombaan agak sedikit membuat saya grogi ditambah lagi sorotan kamera. Maklumlah baru pengalaman perdana tampil di tingkat Nasional dan dinilai para dewan juri Internasional,”bebernya.

Dengan bermohon kepada Tuhan ditambah dengan semangat dari ibunya yang turut hadir saat itu, membuat Detsri mampu menguasai panggung dan perjuangannyapun membuahkan hasil manis.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada LPPD Tapteng dan Provinsi Sumut kepada pelatih dan panitia yang sudah menyediakan wadah Pesparawi ini buat saya untuk berlatih dan menguji kemampuan saya sampai tingkat Nasional. Dengan prestasi yang saya raih ini akan saya pergunakan sebaik-baiknya untuk pelayanan di gereja serta berbagi ilmu dengan teman-teman,”ujarnya.

Rasa bangga dari kedua orangtua Destri juga terlihat jelas ketika diwawancarai. Menurut mereka, bakat putriya sudah terlihat sejak SD dan mereka selalu memberikan semangat kepada anaknya setiap mengikuti pertandingan.

“Waktu SD Destri berhasil meraih Juara I Pentas Seni se-Kabupaten Tapanuli Tengah. Dapat penghargaan diajang Tapteng mencari bakat tahun 2014, dan dilanjutkan dengan kegiatan Pesparawi Tapteng sampai berhasil ke tingkat Nasional. Kiranya dengan talenta yang dimiliki putri kami ini, kelak cita-citanya menjadi penyanyi dapat terwujud,”kata Torang Limbong orangtua Destri yang berprofesi sebagai guru sekaligus kepala sekolah di SDN Sipange I Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah. (***)