Tambang Emas Martabe Terapkan Program Gender Diversity

oleh
Senior Manager Corporate Communication tambang emas Martabe, Katarina Siburian Hardono saat menyerakah plakat kepada Maria D. Andriana selaku Redaktur Senior LKBN Antara dalam acara disukusi bersama tentang Gender dengan wartawan di Sidimpuan. (batakpost.com/RED)

Tapsel, 23/7 (Batakpost.com)- Kalau selama ini ada pandangan bahwa kaum perempuan jarang bekerja di perusahaan tambang, tidak demikian yang terjadi di tambang emas Martabe. Dimana perusahaan ini sejak 2016 lalu sudah memiliki program Gender Diversity. Dan hasilnya saat ini sekitar 494 tenaga kerja perempuan dari 2.649 total karyawan tambang baik yang lokal dan kontraktor.

Menurut Senior Manager Corporate Communication tambang emas Martabe, Katarina Siburian Hardono, bahwa perusahaan tempatnya bekerja memiliki target 25 persen tenaga kerja perempuan tahun 2019. Jika hal itu sudah terwujud, maka tambang emas Martabe satu-satunya tambang di Indonesia yang memiliki tenaga kerja perempuan sampai 25 persen.

“Beberapa kegiatan yang bertemakan tentang Gender Diversity sejak tahun 2016 sukses kita laksanakan serta mendapat sambutan positif dari perusahaan dan juga karyawan. Baru-baru ini juga dilaksanakan kegiatan bersama denga teman-teman media yang dari Medan, Tapanuli Tengah-Sibolga dan Tapsel serta Padangsidimpuan yang dipusatkan di Hotel Mega Permata Padangsidimpuan. Tema yang dibahas tentang tantangan dan potensi penerapan inisiatif keberagaman gender di dunia pertambangan dengan mendatangkan nara sumber ibu Maria D. Andriana selaku Redaktur Senior LKBN Antara. Dengan demikian keberadaan kaum perempuan bekerja di tambang emas bukan menjadi hal yang asing lagi,”jelasnya.

Wiwi Patyasih (tengah) tampak tetap cantik saat bekerja di tambang bersama dengan rekannya. (batakpost.com/RED)

 

Lantas bagaimana dengan kemampuan mereka? Menurut wanita berambut pendek itu, tidak ada masalah. Semua yang dikerjakan kaum laki-laki di tambang emas Martabe dapat dikerjakan kaum perempuan termasuk sebagai tenaga operator alat berat dan juga bagian peledakan. Demikian juga dengan jabatan posisi perempuan mulai dari karyawan biasa sampai level manager.

Sejumlah karyawan perempuan yang bekerja di tambang emas Martabe atau PT Agincourt Resources yang behasil diwawancarai mengungkapkan, bahwa mereka cukup senang dan nyaman bekerja di tambang emas.

Wiwi Patyasih yang bekerja di Departemen Corporate Communicator mengungkapkan rasa senangnya bekerja di dunia tambang Martabe. Wanita kelahiran Bontang 39 tahun lalu itu merasa nyaman karena mendapat perlakukan yang aman dari rekan kerjanya tanpa mengesampikan tugas dan tanggungjawab masing-masing.

“Kalau didepartemen kami hampir 70 persen karyawannya adalah perempuan. Karena kami memiliki tiga devisi seperti SEM, ICP, MEDREL, yang memiliki tugas dan tantangan yang cukup menarik. Demikian juga dengan fasilitas dan salary sangat cukup,”akunya.

Sebagai karyawan yang sehari-hari bertemu dengan masyarakat baik itu melalui kegiatan di dalam tambang dan juga di luar tambang dituntut penampilan yang menarik dari seorang wanita. Untuk itulah Wiwi berusaha tampil dengan maksimal memberikan informasi tentang produk dari tambang emas Martabe tanpa mengesampingkan tampilan feminimnya.

“Walaupun saya kerja di tambang tampilan feminimnya harus tetap terlihat. Jangan sampai ada kesan karena kerja ditambang sehingga penampilannya asal-asalan. Dengan demikian image masyarakat bahwa bekerja di tambang itu tidak bisa tampil cantik semakin terkikis,” ucap wanita berparas manis itu.

Pengakuan yang sama tentang kenyamanan bekerja di Martabe juga diakui Fitriani Ritonga dan Nurafni Harahap. Wanita yang bekerja di Departemen lingkungan ini mengungkapkan dari tiga orang karyawan di Departemen mereka, dua karyawan wanita.

Yang tidak kalah menarik adalah pengakuan Viviyanti yang sudah 5 tahun bekerja di tambang Martabe. Wanita kelahiran Batangtoru, Tapanuli Selatan ini dipercaya untuk megemudikan Manhaul atau lebih dikenal dengan sebutan supir mobil truk besar. Di atas 10 roda Mahnaul ini lah Vivi berjuang bahkan saat usia kehamilannya 7 bulan masih tetap eksis bekerja melewati tanjakan menuju perbukitan tambang Martabe.

 

Viviyanti Diver Manhaul atau supir truk besar. (batakpost.com/RED)

Namun itulah menariknya bekerja di Martabe, dimana pihak perusahaan cukup peduli dengan hak karyawan dan perempuan. Setelah kehamilan karyawan perempuan usia 7 bulan, maka akan ditarik untuk bekerja di kantor sampai usia kehamilannya 9 bulan. Sesudah melahirkan diberikan cuti 4 bulan terhitung April 2018, dulunya hanya 3 bulan. Bahkan untuk ibu yang menyusi disiapkan ruangan untuk menyimpan ASI.

“Saya sangat bersyukur bisa bekerja di Martabe ini walaupun sebagai driver Manhaul. Karena gaji yang saya terima sangat mencukupi ditambah lagi dengan bonus dan THR serta kenyamanan bekerja. Dengan penerapan program Gender Diversity  saya mengajak kaum saya agar merubah pandangan yang negatif dan berat bekerja di tambang. Bekerja di tambang itu asyik dan banyak pengalaman. Mari kita buktikan bahwa tidak selamanya perempuan itu hanya bekerja di dapur dan lemah,”ajak ibu satu orang anak ini.

Selain Vivi ada Clarisa karyawan Martabe yang baru bekerja 6 bulan. Wanita cantik asal Makassar ini memandang program Gender Diversity yang diterapkan Martabe sangat bagus karena memberikan kesempatan dan peluang yang sama dengan kaum laki-laki.

Clarisa yang bekerja di Depatemen Geologi Tambang Emas Martabe. (batakpost.com/RED)

Lulusan Trisakti Jakarta ini bekerja di bidang Geologi yang saban hari meniliti keberadaan batu serta kandugannya. Karena satu basic dengan ayahnya, wanita berusia 23 ini tidak takut dilepas bekerja jauh dari keluarganya.

“Sampai saat ini saya nyaman bekerja di Martabe, karena banyak juga sebaya saya bekerja di bidang Geologi ini. Dan tindakan teman-teman khususnya para cowok cukup sopan dan kompak. Untuk itu jangan takut atau khawatir kalau mau bekerja di tambang. Coba aja dulu selagi ada kesempatan, karena belum tentu apa yang kita takutkan itu terjadi. Saya sudah buktikan sendiri bagaimana asyiknya bekerja di tambang,”ajak wanita single itu.

Dukungan dan sambutan positif dengan penerapan program gender diversity di tambang emas Martabe sejak tahun 2016 lalu mendapat dukungan positif dari tenaga kerja pria yang ada di Martabe. Salah satunya Ifan Farianda yang bekerja di Deparemen Superintendent Local Economic Development.

Menurutnya pihak perusahaan tidak sebatas komitmen di mulut saja, melainkan diikuti dengan program yang berjalan tentang gender diversity itu.

“Cukup bagus konsep gender diversity yang dilakukan oleh Martabe dan berbanding terbalik ditempat kerja saya dulu di salah satu tambang di Kalimantan. Saya menyambut baik dan mendukung program gender diversity ini baik mulai dari sistim perekrutannya sampai dengan posisi jabatan yang diraih oleh kaum perempuan. Demikian juga dengan hak-hak wanita dan para kaum ibu di perusahaan Martabe ini benar-benar diperhatikan perusahaan seperti cuti melahirkan. Dan bukan itu saja kepada suami juga diberikan cuti yang awalnya hanya 3 hari sekarang menjadi 14 hari. Dengan demikian waktu yang diberikan perusahaan kepada suami yang isterinya melahirkan cukup membantu kebersamaan mendampingi isteri tercinta. Sangat jarang perusahaan yang demikian. Kita cukup bangga dengan segala kebijakan di perusahaan ini terlebih menyangkut hak dan kewajiban,”ungkapnya. (RED)