Lagu Butet Yang Terkenal Itu Ternyata Diciptakan di Gua Naga Timbul Sitahuis

oleh
Inilah Gua Naga Timbul tampak dari bagian Depan, tempat Lagu Butet diciptakan dan dinyanyikan pertama kali. (batakpost.com/HAT)

Catatan Jason Gultom

Siapa yang tidak tahu lagu Butet? Lagu ini adalah salah satu lagu perjuangan Bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan di wilayah Sumatera Utara, khususnya di Keresidenan Tapanuli. Lagu Buter ini cukup tekenal sejak jaman penjajahan sampai dengan sekarang. Biasanya lagu ini selalu dinyanyikan pada hari Kemerdekaan Indonesia.

Hampir semua orang Batak tahu dan pernah menyanyikan lagu Butet ini. Bahkan salah soerang musisi tekenal dari negara Austria Herman Delago bersama dengan musisi Batak, Vicky Sianipar telah mengaransemen lagu ini. Racikan musik Vicky bersama Herman cukup mendapat tempat dihati masyarakat, sehingga lagu ini semakin sering dinyanyikan walaupun bukan pada momen hari kemerdekaan.

Dibalik tekenalnya lagu ini tidak banyak yang mengetahui siapa pencipta lagu ini, dan diciptakan dimana.

Saya mencoba menyadur ulang tulisan saya ini ketika saya masih menjadi wartaan di Harian METRO TAPAULI Group JPPN. Waktu itu saya melakukan investigasi terkait liputan berita saya tentang ORITA (Oeang Repoeblik Indoesia Tapanoeli) yang menjadi mata uang resmi rakyat Indonesia yang ada di kawasan Residen Tapanuli. Dan ternyata dari hasil liputan saya, lagu Butet berkaitan erat dengan ORITA.

Hal itu diakui masyarakat Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara yang membaca tulisan saya tentang ORITA yang teribit di Harian METRO TAPANULI awal tahun 2008 lalu. Masyarakat Sitahuis bersama dengan Camatnya mengajak saya untuk meliput tempat percetakan uang ORITA yang ada di Sitahuis, dan juga Gua Naga Timbul yang berada di tengah hutan Kabupaten Tapanuli Tengah tempat teciptanya lagu Butet yang terkenal itu.

Waktu itu kami ada beberapa orang teman media yang terjun langsung ke lokasi. Perjalanan cukup melelahkan menuju Gua Naga Timbul. Harus menuruni lereng gunung dan melewati kebun karet masyarakat. Sesudah itu harus masuk ke hutan Gua Nata Timbul yang cukup rindang waktu itu. Beberapa anak sungai kami lewati bersama dengan Camat Sitahuis dan Kepala Desa Naga Timbul.

Beratnya rintangan tidak menyurutkan semangat kami menuju Gua Naga Timbul. Memang benar, gua ini sangat tersembunyi dan tidak tampak seperti gua karena pada bagian depan gua pintunya tidak begitu besar dan di atasnya ditumbuhi pepohonan. Hal itulah yang membuat Belanda kesulitan mendapatkan tempat ini.

Saya bersama dengan teman-teman ingin mecoba masuk ke dalam gua, hanya saja Camat dan Kepala Desa Naga Timbul melarang demi keselematan, karena banyak kelelawar di dalam gua. Kamipun hanya bisa mengabadikan lubang Gua Naga Timbul dari bagian depan. Walaupun dengan samar, kami masih bisa melihat di dalam gua seperti ada kamar-kamar dan berbelok.

Menurut penuturan warga Sitahuis dan warga Gua Naga Timbul yang ikut bersama kami mengungkapkan, ternyata Lagu Butet yang kita dengar sekarang ini sudah menggalami penyempurnaan lirik.

“Butet…Dipangunsian Do Amangmu Ale Butet..Damargurilla Da Mardarurat Ale Butet”. Itulah penggalan lagu yang kita hafal sampai sekarang ini. Namun menurut orang-orang tua yang ada di Sitahuis dan Naga Timbul lirik asli lagu Butet itu seperti ini.

“Butet…Di Sitahuis Do Amangmu Ale Butet…Da Mancentak Hepeng ORITA Ale Butet..Da Mancetak Hepeng ORITA Ale Butet”.

Menurut pengakuan warga, boru Lumbantobinglah yang menyanyikan lagu itu di dalam Gua Naga Timbul sewaktu menidurkan Putrinya. Masyarakat waktu itu menyelamatkan diri ke Gua Naga Timbul, karena Belanda terus menyerang. Sementara kaum pria bertahan di Sitahuis untuk melawan Belanda dan sebahagian mencetak uang ORITA sebagai alat tukar.

“Jadi yang menyanyikan lagu Butet itu adalah boru Lumbantobing, dan dinyanyikan di Gua Naga Timbul sembari menidurkan putrinya. Itulah pengakuan para orangtua yang ada di Sitahuis kepada kami,”kata Camat Sitahuis Josep yang sudah almarhum.

Masih seputar penjelasan warga, setelah Sitahuis dikuasi Belanda dan menjadikan Desa Sitiris yang masih satu Kecamatan dengan Sitahuis saat ini menjadi markas Belanda. Sibontar Mata (Sebutan bagi Belanda) berhasil membakar tempat percetakan uang ORITA yang ada di Sitahuis. Namun mesin cetak uang ORITA masih sempat diselamatkan dan dibawa ke dalam gua perjuangan di hutan Naga Timbul. Aktivitas percetakan uangpun sempat berlanjut di Gua itu.

Kepala Desa Naga Timbul yang saat itu dijabat oleh R. Pasaribu mengatakan, bahwa Belanda selalu mengejar dan mencari dimana keberadaan mesin cetak ORITA itu

Mendengar pengakuan warga, saya semakin tertarik untuk menelusuri informasi berharga ini. Dan usaha saya tidak sia-sia, karena saya berhasil menemukan rumah yang menjadi tempat dicetaknya uang ORITA, yaitu di rumah Andareas Aritonang. Menurut pengakuan warga dan Camat Sitahuis Joseph membenarkan di rumah Andareas Aritonanglah uang ORITA itu dicetak.

“Memang benar inilah rumah yang menjadi bukti sejarah tempat dicetaknya ORITA itu. Memang rumah ini sudah mengalami pemugaran namun hanya bagian depan saja, itupun kami jadikan sebagai warung. Sedangkan pada bagian tengah rumah dan loteng masih bawaan rumah dulu. Dan di ruang tengah inilah uang ORITA dicetak,”ujar T br Simatupang (Op. Jesri) saat kuwawancarai 10 tahun yang lalu di Sitahuis.

Lebih lanjut Op. Jesri yang sudah berusia 81 tahun waktu itu menuturkan, Belanda terus mencari dimana lokasi percetakan uang ORITA, karena dengan adanya uang ORITA, maka uang Belanda tidak berlaku di Residen Tapanuli. Namun sangat disayangkan bahwa uang tersebut tidak adalagi dimiliki Op. Jesri dan juga keluarganya.

“Memang dulu ada saya simpan, tapi saya tidak terfikir bahwa uang itu akan berarti nantinya, makanya keberadaan uang tersebut tidak terlampau kami pedulikan,”ungkap Op. Jesri.

Op. Jesri juga tidak mengingat lagi kapan uang itu dicetak di Sitahuis. Demikian juga dengan warga sekitarnya. Mereka hanya mengingat bahwa di rumah Andareas Aritonang uang ORITA dicetak. Di bagian depan rumah Andareas dulunya ada gudang yang menjadi tempat penyimpanan barang-barang percetakan dan juga peralatan perang pejuang rakyat Tapanuli melawan penjajah.

Sekarang di kawasan itu sudah berdiri rumah tinggal penduduk termasuk di lahan yang dulunya gudang sudah menjadi rumah penduduk. Sedangkan di sekitarnya sudah berdiri kantor Camat Sitahuis. Warga juga berharap agar bukti-bukti sejarah yang masih tertinggal dapat dirawat dan dilestarikan, karena suatu saat hal itu menjadi bukti sejarah yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Apalagi Provinsi Tapanuli sudah terwujud nantinya akan menjadi sejarah baru bagi Provinsi Tapanuli yang kita harapkan. Harap warga. (***)