oleh

KM Mega Top Berada 8 Mil Keluar Dari Laut Indonesia

Sibolga (Batakpost.com)- KM Mega Top yang dikabarkan putus kontak dengan Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) Sibolga sejak 3 Januari 2018 lalu, menjelaskan kronologis hilangnya kontak dengan Kapal yang ditumpangi 28 ABK asal Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah dan satu tekong kapal pompong yang menumpang di tengah laut.

Menurut Kepala Pelabuhan Perikanan (PPN) Sibolga, Rustardi didampingi Satwas PSDKP, Boris Simanjutak menjelaskan, sejak keberangkatan KM Mega Top tanggal 27 Desember 2017 sampai dengan tanggal 2 Januari 2018, masih terpantau di radar PSDKP. Barulah tanggal 3 Januari 2018 hilang kontak dengan PSDKP Sibolga. Bahkan Vessel Monitoring System (VMS) alat pemberi siqnal dari kapal tidak menyala lagi. Demikian juga radio kapal tidak termonitor lagi.

“Biasanya alat VMS itu berada diatas ruang kemudi. Dan setiap kapal 30 GT selalu dilengkapi dengan tombol emergency. Dimana dengan menekan tombol itu maka akan terpacar signal ke PSDKP. Kuat dugaan kapal itu terhempas badai karena pada tanggal 2 Januari 2018 arah angin ke Selatan dengan kecepatan 30 knot. Kecepatan 30 knot itu cukup tinggi dan membahayakan. Nah, berdasarkan signal VMS yang kami pantau tanggal 2 Januari, posisi kapal KM Mega Top berada 8 mil keluar dari laut Indonesia ke laut Hindia dengan kecepatan hanya 0,5 knot. Atinya kecepatan 0,5 knot itu kapal nyaris tidak bergerak. Dan kapal yang dekat dengan posisinya saat itu kapal nelayan dari Jakarta sekitar 8 mil. Sejak itu tidak ada lagi signal VSM dan signal radio,”jelas Boris.

Ditanya apa penyebab signal VMS dan raido tidak berfungsi? Menurutnya hal itu dikarenakan mesin utama kapal tidak berfungsi atau pecah.

“Jadi kapal itu memiliki mesin utama. Kalau mesin utama tidak berfungsi atau pecah, maka signal VMS dan signal radio hilang. Dan sampai saat ini tidak ada lagi signal kapal KM Mega Top di radar kita. Dan sesuai dengan data yang ada pada kami, terakhir signal VMS kita monitor di S:01 13. 31 dan E:94 57. 72,”terangnya.

Terkait dugaan terhempasnya kapal tersebut sampai 8 mil dari laut Indonesia ke laut Hindia, pihak PPN mengharapkan adanya upaya Internasional nantinya. Karena diduga kapal itu keluar dari zona Indonesia bukan untuk menangkap ikan, melainkan diduga terhempas badai.

“Kita lihatlah nanti upaya dan perkembangan selanjutnya. Mudah-mudahan ada kabar baik atau upaya yang lebih intens lagi,”kata kepala PPN Sibolga. (HAT)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed