oleh

Tembok Penahan Longsor Sibuluan Dikerjakan Menggunakan Sheet Pile

Tapteng, 29/11 (Batakpost.com)- Untuk pertama kalinya proyek penahan tembok sungai di Kabupaten Tapanuli Tengah menggunakan sistem Sheet Pile. Dimana proyek seperti ini biasanya digunakan di kota-kota besar, seperti di kali Ciliwung.

Berkat loby dan perjuangan dari Pemkab Tapteng, proyek senilai Rp 4.863.536.600 diarahkan ke Kabupaten Tapanuli Tengah melalui dana hibah dari pemerintah pusat ke Pemkab Tapteng.

“Pemkab Tapteng melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah melaporkan kondisi yang terjadi di kawasan pemukiman dan juga sekolah HKBP yang ada di pinggiran Sungai Sibuluan. Oleh Pemerintah pusat laporan itu direspon dan menghibahkan anggaran ke Pemkab Tapteng melalui BPBD untuk merehabilitasi dan rekontruksi pembuatan tembok penahan daerah aliran sungai Sibuluan dengan besar anggaran Rp 4.863.536.600, dengan masa kerja bulan September-Desember 2017,”kata PPK BPBD Tapteng, Leonardus Sinaga ketika dikonfirmasi batakpost.com  di lokasi proyek, Rabu sore, (29/11).

Diterangkannya, panjang aliran sungai yang direhabilitasi 146 meter dan lebar 1 meter dengan menggunakan sheet pile.

“Ini yang pertama kali proyek shett pile untuk tembok aliran sungai di Kabupaten Tapanuli Tengah. Dengan menggunakan metode ini, dipastikan tembok penahan longsor ini cukup kuat dan baik. Karena kedalam tiang pemancang 6 meter dari permukaan air. Jadi sudah cukup dalam bahkan sudah sampai ke dasar tanah yang kuat,”terang Leo.

Sementara itu menurut J. Sihombing selaku pelaksana lapangan dari PT Duta Sematera Perkasa mengatakan, dalam mengerjakan proyek itu, kendala yang dihadapi adalah faktor cuaca yang selalu hujan. Belum lagi dasar sungai yang sudah banyak ditimbun menggunakan batu gajah, pohon dan juga bronjong, sehingga mempersulit proses pengerjaan.

“Memang kami sangat terkendala dengan kondisi itu, namun sebagai rekanan yang mengerjakan proyek ini harus tetap beratanggungjawab untuk meberikan yang terbaik sesuai dengan gambar dan besteknya,”ujar Sihombing.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, bahwa awal bulan Januari 2017 lalu Sungai Sibuluan meluap yang mengakibatkan kawasan Sibuluan termasuk sekolah SD-SMP dan gereja HKBP Sibuluan tergerus air. Akibatnya, tiga ruangan belajar SMP rubuh dan juga bangunan SD rusak yang berdampak terhadap proses belajar mengajar.

Para siswa SD-SMP HKBP Inipun membuat aksi di lokasi sekolah mereka yang runtuh, berisikan permintaan kepada Presiden Jokowi agar memperhatikan kondisi mereka yang terhalang belajar. (HAT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed