Karnaval Kemerdakaan Pesona Danau Toba 2017 Diundur Jadi Bulan September

oleh
Keterangan foto: Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba Tahun 2016 lalu. (INT)

Medan, 23/8 (Batakpost.com)-Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, disingkat dengan KPDT, 2017 diundur dari pelaksanaannya 26 Agustus menjadi 10 September. Surat pengunduran jadwal karnaval itu sudah dilayangkan ke Kementerian Pariwisata Republik Indonesia oleh Pemkab Toba Samosir dengan alasan waktu Festival Parahyangan yang dilaksanakan 26 Agustus 2017 juga. Alasan itu bisa jadi sangat logis hingga memang KPDT 2017 harus diundur.

Demikian tulisan Thompson HS dalam akun faceboonya Selasa, (22/8). Padahal kata Thompson, dirinya sendiri sudah siap-siap ke Balige untuk menyaksikan KPDT ke-2 itu setelah dianjurkan oleh Presiden Jokowi pada pelaksanaan KPDT yang pertama tahun 2016 lalu. Anjuran itu dianggap bersifat lisan. Namun kesaktiannya dapat ditangkap oleh Pemkab Toba Samosir hingga dapat menganggarkannya kemudian dalam APBD, di samping sokongan anggaran dari Kementerian Pariwisata.

Karnaval 2016 Menjadi Ikon

Masyarakat Tobasa sudah yakin dengan kedatangan Presiden Jokowi pada Karnaval 2016. Peserta dari berbagai propinsi juga sudah di sekitar Balige dua hari sebelum karnaval. Mereka dipandu sejumlah mahasiswa dari Siantar dan Laguboti. Bahkan dari berbagai sudut Kawasan Danau Toba partisipasi semakin meningkat. Para pandu kebersihan dari kalangan anak-anak juga menjadi bagian dari karnaval. Dapat diperkirakan, Karnaval 2016 menghasilkan banyak sampah, terutama sampah plastik dari stok minuman plastik yang digunakan setiap peserta, penonton, dan pengunjung. Para pandu itulah dibayangkan dapat memungut sampah-sampah yang dibuang tidak sengaja atau mengingatkan para pembuang sampahnya secara sembarang.

Di panggung start Paspamres sudah mendominasi lapangan. Beberapa pelaksana teknis juga leluasa di area panggung dan radius yang diawasi untuk keamanan presiden. Sterilisasi bersifat antisipatif, karena presiden yang satu ini terkadang tidak terduga protokoler kalau sudah berinteraksi dengan publik. Para peserta yang mendapat kesempatan tampil di hadapan presiden juga mempunyai alasan mudah kalau hilir mudik di area steril itu. Warna ulos mendominasi penglihatan pada Karnaval 2016. Berbagai media visual dan audio juga sibuk dengan siaran langsung, terutama pada detik-detik kedatangan presiden, dengan mewawancarai narasumber yang mengetahui situasi dan materi karnaval. Lagu Indonesia Raya mengawali formalitas karnaval setelah penyambutan dan iringan sejumlah pesilat dan pejabat daerah mengawal presiden dan rombongan ke tribun khusus dekat panggung utama. Horas, Mejuah-juah, Njuah-juah!